Rabu, 28 Januari 2015

BAB II
UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP  SISWA MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA KONSEP SISTEM RESPIRASI


A.    Pembelajaran Berbasis Masalah
11
Berbagai definisi dikemukakan oleh para ahli tentang pembelajaran berbasis masalah. Lambros (2004) mengemukakan  bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah metoda pengajaran yang didasarkan pada penggunaan permasalahan sebagai titik awal pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan yang baru. Menurut Lee & Sonmez (2003) pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menantang para siswa untuk mencari solusi-solusi dari permasalahan–permasalahan dunia nyata secara individu atau kelompok, untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan menjadi pembelajar mandiri dan menekankan penggunaan keterampilan-keterampilan berpikir analitis dan kritis. Pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan konsep yang esensi dari materi pelajaran (Moffit dalam Runi, 2002:12). Pembelajaran ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesa, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain. Pembelajaran berbasis masalah berfokus pada penyajian suatu permasalahan kepada siswa, kemudian siswa diminta mencari pemecahannya melalui serangkaian kegiatan dan investigasi berdasarkan teori, konsep, dan prinsip yang dipelajarinya (Pannen dalam Suryawati, 2006:12). Dalam PBL siswa diperkenalkan pada konsep melalui masalah yang terjadi di lingkungannya. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa belajar secara aktif untuk mengkonstruksi pengetahuannya.
Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dapat mengetahui “ mengapa mereka belajar dan apa yang mereka pelajari” (Chin & Cia, 2004:69). PBL menekankan kepada pemahaman konseptual dibandingkan dengan hanya sekedar menghafal fakta-fakta (Lambors, 2004:6). Model pembelajaran berbasis masalah merupakan pergiliran dari siswa sebagai  penerima informasi yang pasif menjadi pebelajar yang aktif, pebelajar yang mandiri dalam   memecahkan masalah, dan meningkatkan program pendidikan  dari mengajar ke pembelajaran. Model ini memungkinkan siswa menemukan suatu pengetahuan baru melalui suatu masalah yang dipecahkannya. Saver  & Duffy (Lee & Sonmez, 2003) menyatakan bahwa PBL menekankan pemecahan masalah yang kompleks dalam konteks yang banyak dan mengembangkan kemampuan  barpikir tingkat tinggi. Hal ini bermakna bahwa PBL berhubungan dengan beberapa kemampuan siswa seperti problem solving, berpikir, kerja kelompok, komunikasi, dan kemampuan dalam memperoleh informasi dan bertukar informasi.
Berdasarkan uraian di atas prinsip dasar dari PBL itu sendiri adalah pengaktifan pembelajaran dengan memberikan suatu masalah dan pertanyaan kemudian siswa mencoba memecahkannya. Masalah yang harus dipecahkan siswa adalah masalah yang kompleks dan nyata dalam kehidupan, semuanya ini digunakan untuk memotivasi siswa agar siswa mengidentifikasi dan mencari konsep dan prinsip dalam membahas masalah yang telah diberikan (Allen, Duch & Groh, 2001). Masalah yang dikemukakan dalam PBL adalah masalah yang tidak terstruktur (Ill-Structure). Menurut Gallagher et al. (Chin & Cia, 2004:69) masalah yang tidak terstruktur memiliki ciri : situasi awal kekurangan informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sebuah solusi, tidak ada satu cara yang tepat sebagai pendekatan pemecahan masalah, perubahan definisi masalah sebagai informasi baru berusaha dikumpulkan, siswa sama sekali tidak pernah yakin bahwa mereka membuat pilihan yang benar untuk solusi.
1. Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah
Ibrahim (2004) mengemukakan pembelajaran berbasis masalah dikembangkan dengan tujuan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, belajar berbagai peran orang dewasa dengan melibatkan mereka dalam pengalaman nyata, menjadi pebelajar otonom dan mandiri. Menurut Sanjaya (2006:214) tujuan yang ingin dicapai oleh pembelajaran berbasis masalah adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah. Menurut Gallagher (Lee & Sonmez, 2003) tujuan utama dari pembelajaran berbasis masalah adalah dicirikan sebagai kemampuan untuk belajar dibandingkan kecendrungan memperoleh pengetahuan. Efektivitas PBL bergantung pada ketertarikan siswa kepada permasalahan yang ditugaskan.
Para pendukung PBL percaya bahwa ketika para siswa mengembangkan prosedur-prosedur pemecahan masalahnya, siswa sedang mengintegrasikan pengetahuan mereka yang konseptual dengan ketrampilan-ketrampilan mereka yang prosedural (Lee & Sonmez, 2003). Wang et al. (1998) menyatakan mempelajari suatu masalah tidak selalu mempunyai suatu solusi, dengan begitu, memecahkan masalah  bukan tujuan akhir dari PBL. Sebagai gantinya, suatu masalah dalam pembelajaran bertindak sebagai suatu sarana pembelajaran. Isi pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan dalam memecahkan masalah merupakan tujuan pembelajaran.
2. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
Borrow dan Tamblyn (Baden et al., 2004) mengemukakan karakteristik pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut : (1) Fokus dari pengorganisasian belajar betu-betul menggunakan situasi dunia nyata sehingga tidak satupun jawaban yang dianggap paling benar, (2) Siswa bekerja di dalam kelompok untuk menghadapi masalah, mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam belajar dan mencari solusinya,  (3) Siswa mendapatkan informasi baru melalui belajar sendiri, (4) Guru bertindak sebagai fasilitator, (5) Permasalahan-permasalahan mengarah kepada pengembangan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.
Akinoglu & Tandagon (2007:73) mengemukakan enam  karakteristik yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran berbasis masalah. Pertama, proses belajar harus dimulai dengan suatu masalah, terutama masalah yang belum terpecahkan. Kedua, isi dari suatu permasalahan merupakan isu-isu yang menarik perhatian siswa. Ketiga, guru hanya sebagai fasilitator di dalam kelas. Keempat, siswa harus diberi waktu untuk berpikir atau mengumpulkan informasi dan menyusun strategi pemecahan masalah, dalam proses ini pemikiran-pemikiran yang kreatif harus didukung. Kelima, tingkat kesukaran dari materi yang akan dipecahkan tidak terlalu sulit sehingga dapat menakuti siswa. Keenam,  kenyamanan dan keamanan lingkungan pembelajaran harus diciptakan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan berpikir siswa dan memecahkan masalah.
Ibrahim (2004) mengemukakan empat ciri-ciri pembelajaran berbasis masalah. Pertama, mengorientasikan siswa kepada masalah autentik. Pada tahap ini guru menyusun skenario yang dapat menarik perhatian siswa, sekaligus memunculkan pertanyaan yang benar-benar nyata di lingkungan siswa serta dapat diselidiki oleh siswa untuk menemukan jawabannya. Kedua, berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun PBL berpusat pada matapelajaran tertentu, misalnya biologi, masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa dapat meninjau dari berbagai mata pelajaran. Ketiga, penyelidikan autentik. PBL mengharuskan siswa untuk melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Siswa harus mendefinisikan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi/data, melakukan percobaan, membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan. Metode yang digunakan bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari. Keempat, menghasilkan produk/karya dan memamerkanya. PBL menuntut siswa untuk menghasikan produk tertentu dalam karya nyata atau artefak dan memamerkan. Karya tersebut dapat berupa rekaman debat, laporan, model fisik, video dan program komputer.
Selanjutnya Wang et al. (1998:3-5) mengemukakan  tiga unsur esensial yang terdapat dalam pembelajaran berbasis masalah yaitu adanya suatu permasalahan, pembelajaran berpusat pada siswa, dan belajar di dalam kelompok kecil.
Adanya suatu permasalahan merupakan inti dari pembelajaran berbasis masalah. Masalah dapat bersumber dari guru, artikel-artikel, surat kabar, buku teks, bahkan teks-teks yang didownload dari internet.
Pembelajaran yang berpusat pada siswa yang dilakukan di dalam kelompok-kelompok kecil, siswa membaca masalah yang dikemukakan, anggota kelompok mengidentifikasi  fakta-fakta apa yang mereka ketahui dari skenario permasalahan, kemudian mereka menawarkan ide atau hipotesis atau pemikiran tentang fakta-fakta yang mereka anggap relevan. Selanjutnya mereka mengidentifikasi apa yang dibutuhkan untuk dipelajari dan membuktikan bahwa gagasan mereka tepat. Para siswa lalu pergi keberbagai macam sumber pembelajaran seperti internet, pustaka, laboratorium, atau para ahli untuk memproleh informasi yang mereka butuhkan. Mereka dapat juga mendesain suatu percobaan atau aktivitas untuk menguji gagasan mereka. Para guru di PBL menjadi fasilitator pembelajaran kelompok untuk memudahkan proses pembelajaran siswa sebagai contoh : guru memperkenalkan berbagai strategi yang efektif yang dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran. Guru sebagai fasilitator perlu mengembangkan keterampilan bertanya yang baik. Ketika siswa bekerja dalam masalahnya, satu tugas penting untuk guru adalah menggunakan pertanyaan untuk menolong siswa  memperluas pemikirannya (melalui pertanyaan terbuka), membingkai gagasannya dan membuat kesimpulan-kesimpulan berdasarkan bukti, mengembangkan pemikiran tentang informasi –informasi pendukung yang dibutuhkan.
Pembelajaran Cooperative Learning. Di dalam PBL siswa bekerja dalam kelompok  kecil yang beranggotakan 5-7 orang. Pembelajaran kooperatif dalam PBL adalah penting, karena guru hanya sebagai fasilitator dan tidak lagi sebagai pemberi informasi, para siswa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Dalam kelompok kecil setiap anggota kelompok bertanggungjawab untuk keberhasilan pembelajarannya dan anggota kelompoknya. Ketika pembelajaran membutuhkan identifikasi suatu masalah, tiap-tiap anggota akan berbagi tugas dan masing-masing akan menjadi “master” dari tugas tersebut. Kemudian mereka akan kembali untuk membantu teman sekelompoknya untuk memahami “dimana, apa dan bagaimana” informasi yang didapatkannya. Siswa PBL akan mempunyai keahlian berkomunikasi sebab mereka harus mengkomunikasikan apa yang mereka pelajari untuk teman sekelompoknya. Siswa PBL dikenal sebagai pembelajar-pembelajar yang aktif sabagai hasil dari tiap-tiap anggota kelompok bertanggungjawab atas kesuksesan kelompoknya.
3. Implementasi Pembelajaran Berbasis Masalah
Dalam mengimplementasikan PBL di dalam kelas terdapat tahap-tahap atau kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan guru dan siswa. Berikut ini tahapan-tahapan implementasi PBL menurut beberapa orang ahli PBL. 
Dori & Herscovitz et al. (Akinoglu & Tandagon, 2007:73) menerapkan pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut. Dalam menerapkan sistem pembelajaran berbasis masalah, konsep-konsep yang akan dipelajari diarahkan dan waktu untuk mempelajari materi disiapkan. Sebelum PBL ini diimplementsikan siswa diinformasikan tentang PBL. Kemudian dibentuk kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 5-7 orang. Siswa diberi peluang untuk menguji dan mengenali permasalahan dengan membagikan skenario permasalahan kepada mereka. Jika siswa mempunyai informasi tentang masalah, siswa diharapkan untuk memberikan usulan solusi-solusi untuk masalah ini. Jika mereka tidak mempunyai informasi tentang masalah, siswa didorong untuk membuat riset dengan menggunakan berbagai sumber data. Semua informasi yang diperoleh dalam proses ini dibahas bersama,dan dievaluasi antar anggota kelompok. Kemudian setelah tercapai solusi masalah, solusi ini ditampilkan kepada kelompok-kelompok lain melalui diskusi kelas di bawah bimbingan guru. Dalam model pembelajaran berbasis masalah dapat dinyatakan sebagai metode studi kasus, pendekatan pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah, pendekatan pembelajaran berdasarkan proyek dan pendekatan pembelajaran Cooperative. Model pembelajaran berbasis masalah dapat dipadukan dan dihubungkan dengan model-model  dan metode pembelajaran baru seperti pembelajaran berbasis portofolio dan pembelajaran eksperimen (Akinoglu & Tandagon, 2007)
Selanjutnya Ibrahim (2004) mengemukakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah terdiri dari lima tahap utama, dimulai dari guru memperkenalkan pada siswa tentang situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil karya siswa. Kelima langkah dari model PBL dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1  Langkah-Langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Tahap
Kegiatan Guru
Tahap-1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya
Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap-3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai sperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melaksanakan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

Selanjutnya Chin & Cia (2004:70-71) mengemukakan  langkah-langkah Implementasi pembelajaran berbasis masalah yang melewati lima langkah yang diadaptasi dari Sharan dan Sharan ( 1989): (1) mengidentifikasi masalah yang akan diselidiki, (2) mengeksplorasi ruang lingkup permasalahan, (3)  menggiring siswa untuk melakukan penyelidikan ilmiah, (4) menggabungkan informasi yang diperoleh, dan (5) mempresentasikan penemuan, evaluasi guru dan self-reflection. Ada pun tahapan-tahapan implementasi pembelajaran berbasis masalah  secara rinci diuraikan seperti di bawah ini.
Tahap 1 mengidentifikasi masalah untuk penyelidikan. Siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 5 orang, kemudian siswa membaca masalah-masalah atau isu dari artikel, koran, yang berhubungan dengan materi/konsep yang diberikan oleh guru. Siswa berdiskusi dan bertukar pendapat. Siswa secara individual membangun pemikiran mereka berdasarkan masalah yang mereka minati. Mereka secara individu menuliskan ide dan pertanyaan kemudian siswa bersama dengan anggota kelompoknya merumuskan masalah dan menghasilkan pernyataan tentang masalah.
Tahap 2 mengeksplorasi permasalahan. Siswa merancang tugas proyeknya berdasarkan identifikasi masalah dan guru membantu mengorganisasikan pembelajaran dengan memfokuskan pada tiga pertanyaan yang digunakan untuk memahami “yang perlu diketahui ( Need-to-know)”.  Pertanyaan tersebut adalah : 1) apa yang kamu ketahui ? (What do you now? )  2) apa yang kamu butuhkan untuk diketahui ? (What do you need to know) 3) bagaimana kamu dapat mengetahui apa yang kamu perlu ketahui (How can you find out what you need to know). Setiap kelompok menuliskan ide dan pertanyaan di LKS nya. Siswa mengidentifikasi sumber yang mereka gunakan, dan tipe tugas yang mereka gunakan untuk menyelesaikan masalahnya.
Tahap 3 menggiring siswa untuk melakukan penemuan ilmiah. Siswa mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan. Siswa dapat menggunakan berbagai sumber untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan risetnya seperti perpustakaan, survey, wawancara, internet, dan penyelidikan di laboratorium.
Pada tahap 4, siswa melaporkan apa yang telah mereka lakukan, melengkapi lembar kerja Need-to-Know, dan merencanakan untuk  tugas-tugas berikutnya. Masing-masing kelompok menyimpan buku catatan yang kecil yang  digunakan untuk memantau kemajuan dari penyelidikan mereka. Para siswa merekam semua pertanyaan yang mereka pikirkan dan apa yang mereka telah pelajari pada masing-masing langkah proyek. Pada setiap akhir diskusi atau penyelidikan, kelompok-kelompok tersebut mengisi lembar "learning logs and Project Tasks Allocation" di mana mereka mendokumentasikan apa yang telah mereka temukan dan konsep ilmu pengetahuan yang dipelajari, mereka juga merencanakan untuk penyelidikan mereka selanjutnya. Ini membantu mereka untuk meninjau ulang dan untuk memperkuat informasi yang dikumpulkan.
Pada tahap 5, masing-masing kelompok diberi waktu untuk presentasi selama 15 menit tentang topik proyek yang mereka pelajari. Presentasi juga diikuti dengan sesi tanya-jawab, dan semua presentasi direkam dengan videotape. Semua kelompok menggunakan model penyampaian berbasis teknologi multimedia. Para siswa juga menyerahkan file proyek kelompok yang didokumentasikan dari penemuan kelompok dan rincian proses inquiry. Guru mengevaluasi kelompok berdasarkan pada kriteria yang dikaitkan antara proses dan produk dari pekerjaan proyek, termasuk presentasi kelompok.
Berdasarkan uraian di atas diketahui terdapat perbedaan pendapat dari beberapa ahli tentang tahap-tahapan implementasi pembelajaran berbasis masalah, tetapi pada prinsipnya tahapan yang digunakan sama, hanya berbeda penekanan kegiatan. Ada  yang menekankan kegiatan yang  harus dilakukan siswa dalam menerapkan pembelajaran berbasis masalah dan ada yang menekankan pada kegiatan yang harus dilakukan guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis masalah. Pada penelitian ini tahapan-tahapan yang digunakan merupakan perpaduan antara langkah-langkah atau tahapan pembelajaran yang dikemukakan oleh Ibrahim (2004) dan tahapan-tahapan pembelajaran berbasis masalah yang dikemukakan oleh Chin & Chia (2004:70-71).  
1.      Kelebihan PBL
Akinoglu & Tandagon (2007:73-74) mengemukakan  beberapa kelebihan-kelebihan  dan kelemahan dalam mengimplementasikam pembelajaran berbasis masalah. Kelebihan-kelebihan pembelajaran berbasis masalah yaitu : (1) mengubah dari guru sebagai pusat pembelajaran menjadi siswa sebagai pusat pembelajaran, (2) mengembangkan pengendalian diri siswa, (3) mengembangkan kemampuan siswa untuk melihat sesuatu secara multidimensi dan pemahaman yang lebih dalam, (4) mengembangkan keahlian siswa dalam memecahkan masalah, (5) mendorong siswa untuk mempelajari materi dan konsep baru  ketika memecahkan masalah, (6) mengembangkan sikap sosial dan keahlian berkomunikasi siswa dalam belajar dan bekerja dalam kelompok, (7) mengembangkan berpikir tingkat tinggi/berpikir kritis dan keterampilan  berpikir sains, (8) perpaduan antara teori dan praktek, (9) memotivasi guru dan siswa, (10) meningkatkan kemampuan siswa memanajemen waktu, lebih tefokus, mengumpulkan data, menyiapkan laporan dan mengevaluasi, (11) PBL merupakan pembelajaran yang sesuai dengan kehidupan nyata.
2.      Kelemahan PBL
Adapun kelemahan-kelemahan dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis masalah : (1) akan menyulitkan bagi guru untuk mengubah pola mengajarnya (2) membutuhkan lebih banyak waktu siswa untuk memecahkan situasi-situasi baru ketika situasi-situasi ini pertama diperkenalkan di dalam kelas (3) Kelompok atau individu dapat menyelesaikan pekerjaannya menjadi lebih cepat atau menjadi lebih lambat (4) PBL memerlukan materi dan penelitian yang banyak (5) Sulit mengimplementasikan PBL jika hanya belajar di di dalam kelas (6) Sulit memberikan penilaian dalam pembelajaran.

B.     Penguasaan Konsep
Menurut Rosser (Dahar, 1996 : 80) konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas obyek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Hal ini berarti individu akan membentuk konsep sesuai dengan stimulus-stimulus yang diterimanya dari lingkungan atau sesuai dengan pengalaman yang dilaluinya.
Penguasaan konsep merupakan tingkatan hasil proses belajar seseorang sehingga dapat menjelaskan suatu bagian informasi dengan kata-kata sendiri. Dalam hal ini siswa dituntut tidak hanya sebatas mengingat sesuatu bahan pelajaran tetapi juga mampu menjelaskan dari bahan pelajaran tersebut dengan menggunakan kata-kata sendiri, meskipun penjelasan yang diberikan  siswa susunannya tidak sama dengan konsep yang diberikan kepada siswa, akan tetapi kandungan atau maknanya tidak berbeda.


1.      Perolehan Konsep
Menurut Ausubel (Dahar, 1996 : 81) konsep-konsep dapat diperoleh dalam 2 cara, yaitu:
a)            Formasi konsep (Concept formation)
Formasi konsep merupakan bentuk perolehan konsep sebelum masuk sekolah. Konsep yang diperoleh ini akan mengalami modifikasi atau perubahan yang disebabkan oleh berbagai pengalaman yang telah diperoleh setelah  sekolah atau setelah dewasa. Pembentukan konsep ini merupakan belajar penemuan (Discovery learning).
b)            Asimilasi konsep (Concept assimilation)
Asimilasi konsep bersifat deduktif, yang berarti siswa akan belajar arti konsep baru dengan memperoleh atribut-atribut kriteria dari konsep, kemudian mereka akan menghubungkan atribut-atribut ini dengan gagasan-gagasan yang sesuai dan sudah ada dalam struktur kognitif siswa. Menurut  Rosser (Dahar, 1996 : 83) untuk memperoleh konsep-konsep melalui proses asimilasi, orang yang belajar harus sudah memperoleh definisi formal dari konsep-konsep.
2.            Tingkat pencapaian konsep
Klausmeyer (Dahar, 1989 : 89) mengungkapkan bahwa tingkat pencapaian konsep meliputi tingkat kongkrit, tingkat identitas, tingkat klasifikasi dan tingkat formal. Tingkat kongkrit dicapai siswa apabila siswa telah mengenal benda tersebut sebelumnya kemudian mengamati dan mampu membedakan benda tersebut dari stimulus-stimulus sekitarnya. Tingkat identitas akan dicapai siswa apabila tiga tingkat kongkrit yaitu kemampuan mengamati, membedakan dan mengingat dikuasai oleh siswa yang selanjutnya digunakan sebagai landasan untuk membuat generalisasi. Tingkat klasifikasi akan dicapai apabila siswa mampu mengenal persamaan dua contoh yang berbeda dari kelas yang sama. Tingkat formal, sebagai tingkat paling tinggi pada tingkat pencapaian konsep, tingkat ini akan diperoleh siswa apabila ketiga tingkat di atas sudah dikuasai oleh siswa.
3.            Domain kognitif  menurut taksonomi Bloom
Untuk keperluan penilaian, khususnya dalam pengajaran IPA antara lain untuk mengukur penguasaan konsep siswa, maka berikut ini akan diuraikan secara lebih terperinci mengenai domain kognitif. Kemampuan yang termasuk domain kognitif oleh Bloom dikategorisasikan lebih terperinci secara hierarkis ke dalam enam jenjang, yakni jenjang mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat (Widodo, 2002 : 5-7). Jenjang kognitif yang akan diukur  peningkatannya dalam penelitian ini yaitu:
a).          Mengingat/ Recognizing (C1)
         Menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar”mengingat” bisa menjadi bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya selalu dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebgai suatu yang lepas dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif : mengenali (recognizing) dan mengingat (recalling).
b).          Memahami / Understand (C2)
Mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengkelasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining).
c).          Mengaplikaskan/ Applying (C3)
Mencakup penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedur. Namun tidak berarti bahwa kategori ini hanya sesuai dengan pengetahuan prosedural saja. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan (executing) dan mengimplementasikan (implementing).
d).         Menganalisis/ Analizing (C4)
Menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar unsur-unsur tersebut. Ada tiga macam proses kognitif yang tercakup dalam menganalisis: menguraikan (differentiating), mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributing).


C.   Sistem Respirasi
Berdasarkan GBPP kurikulum 2009 yang berbasis kompetensi materi sistem respirasi disajikan di kelas VIII semester I, dengan standar kompetensi : siswa mampu memahami berbagai system dalam kehidupan manusia. Adapun kompetensi dasar minimal yang harus dikuasai oleh siswa adalah Mendeskripsikan system pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.  
Struktur dan fungsi alat-alat respirasi membahas tentang struktur dan susunan alat-alat sistem respirasi pada manusia yang terdiri dari Struktur dan fungsi rongga hidung (Cavum Nasalis), struktur dan fungsi faring, stuktur dan fungsi laring, struktur dan fungsi trakea, struktur dan fungsi bronkus, struktur dan fungsi bronkiolus, dan sturktur dan fungsi alveolus.
 Pada mekanisme pernapasan dibahas tentang organ yang terlibat dalam pemasukan udara (inspirasi) dan pengeluaran udara (ekspirasi), dengan demikian mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antar tulang rusuk. Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada. Mengenai volume udara pernapasan dibahas tentang volume udara yang keluar dan masuk paru-paru bergantung pada cara bernapas. Pada bagian ini dibahas kapasitas total, udara residu, udara cadangan, kapasitas vital, dan  kapasitas tidal. Tentang Frekuensi pernapasan dibahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi pernapasan manusia.
Pertukaran dan pengangkutan gas oksigen dan karbondioksida saling berkaitan. Pada sub konsep ini  dibahas tentang  proses pertukaran udara (gas O2 dan CO2) yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler yang disebut dengan respirasi eksternal atau pernapasan luar,  dan  proses pelepasan O2 oleh darah menuju jaringan tubuh dan pelepasan CO2 oleh jaringan tubuh ke darah yang disebut respirasi internal serta faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kedua proses tersebut.  Setelah terjadi pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida dilanjutkan dengan proses pengangkutan kedua gas tersebut di dalam tubuh.
Kelainan-kelainan/penyakit yang terjadi pada sistem respirasi dibahas tentang contoh-contoh kelainan/penyakit yang terjadi pada sistem respirasi dan faktor-faktor yang menyebabkannya seperti Asma, Pneumonia, Bronkhitis dan Kanker Paru-Paru. Seiring dengan kemajuan teknologi maka pada materi sistem respirasi ini juga dibahas tentang contoh-contoh teknologi yang berhubungan dengan sistem respirasi seperti PSA (Pulmonary Sound Analyzer) yang merupakan alat pendeteksi penyakit asma.
Materi tentang sistem respirasi merupakan materi yang diakrabi siswa, karena siswa mengalami sendiri proses respirasi tersebut. Walaupun ada konsep-konsep yang abstrak tetapi fenomena-fenomena atau gejala-gejala pada sistem respirasi dapat dirasakan dan dibuktikan. Konsep yang abstrak tersebut seperti proses pertukaran gas oksigen dan karbondioksida yang terjadi antara alveolus dan kapiler darah paru-paru maupun pertukaran gas oksigen dan karbondioksida antara kapiler darah dan jaringan. Proses pengangkutan gas oksigen dan karbondioksida di dalam tubuh juga merupakan konsep  yang abstrak, tetapi proses tersebut dapat dirasakan oleh siswa apabila terjadi gangguan terhadap proses tersebut.
Pembelajaran materi sistem respirasi di sekolah biasanya dilakukan dengan cara guru memberikan informasi tentang materi sistem respirasi. Untuk menjelaskan materi tersebut biasanya guru memulai dengan menginformasikan tentang struktur dan alat-alat sistem respirasi. Untuk menjelaskan hal ini guru dapat menggunakan alat bantu berupa carta, dan model. Selanjutnya guru menjelaskan mekanisme pernapasan, proses pertukaran  dan pengangkutan gas dan diakhiri dengan masalah-masalah yang terjadi pada sistem respirasi. Dari urutan pembelajaran siswa diberikan materi tentang sistem respirasi dan setelah itu baru dibahas tentang masalah-masalah pada sistem respirasi  yang meliputi gangguan pada sistem respirasi seperti penyakit-penyakit yang terjadi pada sistem respirasi. Dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah urutan materi pembelajaran dibalik dengan mengemukakan permasalahan-permasalahan gangguan sistem respirasi diawal pembelajaran. Masalah gangguan sistem respirasi yang terjadi di lingkungan siswa seperti peningkatan jumlah penderita ISPA, Pneumonia, Asma, Kanker paru-paru pada kondisi tertentu dapat dijadikan sarana untuk memperoleh konsep-konsep sistem respirasi yang lain seperti stuktur, fungsi alat-alat respirasi, dan proses pertukaran dan pengangkutan gas oksigen dan karbondioksida.
Masalah-masalah gangguan sistem respirasi dipengaruhi oleh faktor luar seperti pencemaran udara dan infeksi mikroorganisme. Pencemaran udara yang dapat meningkatkan jumlah penderita gangguan sistem respirasi diantaranya adalah asap. Asap ini dapat dari berbagai sumber seperti asap kebakaran hutan, asap rokok dan asap kenderaan bermotor. Permasalahan gangguan sistem respirasi yang disebabkan oleh asap ini dapat dirasakan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dihadapkan kapada permasalahan tentang gangguan sistem respirasi  yang disebabkan oleh asap ini siswa dirangsang untuk berpikir bagaimana asap dapat menggangu sistem respirasi dengan menimbulkan berbagai penyakit. Untuk memecahkan masalahnya siswa harus mengidentifikasi struktur dan fungsi alat-alat respirasi,  kemudian mengidentifikasi zat-zat apa saja yang dikandung oleh asap tersebut dan bagaimana pengaruhnya terhadap sistem respirasi manusia. Dengan menggali informasi ini siswa telah mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka tentang konsep sistem respirasi dan mengembangkan kemapuan berpikir mereka. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran biologi yaitu mengembangkan kepekaan nalar untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan proses kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2003:2).



D. Penelitian yang Relevan
     Penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis masalah  telah banyak dilakukan. Berikut beberapa penelitian yang telah dilakukan  tentang pembelajaran berbasis masalah.
     Runi (2005) melakukan penelitian mengenai penerapan pembelajaran berbasis masalah pada konsep pencemaran lingkungan di kelas VII SMP untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Kesimpulan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dalam memecahkan masalah daripada siswa dengan pembelajaran konvensional.
     Suryawati (2006) melakukan penelitian tentang peningkatan kualitas pembelajaran biologi melalui pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem respirasi dan transportasi hewan di SMPN 20 Pekanbaru. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah daya serap, ketuntasan belajar, dan aktivitas siswa mengalami peningkatan melalui pembelajaran berbasis masalah.
 Chin & Chia (2004) menyelidiki tentang  penggunaan pertanyaan siswa untuk membangun pengetahuan dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah bahwa cara belajar siswa dipengaruhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan  oleh siswa dan ketertarikan siswa di dalam proyek didukung oleh  kemampuan siswa untuk memunculkan pertanyaan yang benar dan sejauh  mana pertanyaan itu dapat dijawab. 
     Selanjutanya Chin & Chia (2005) melakukan penelitian tentang pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan masalah yang tidak tersrtuktur (Ill-structured) dalam pembelajaran biologi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) seringkali siswa tidak menemukan masalah yang tepat untuk diselidiki, hal ini merupakan kesulitan awal dalam mengidentifikasi masalah. Untuk mengatasinya, maka siswa harus diberikan waktu untuk berdiskusi dengan anggota keluarga dan teman-temannya, cara ini akan membangkitkan motivasi siswa untuk meramu kebermaknaan dari  masalah yang akan diselidiki, (2) masalah yang tidak terstruktur menstimulasi siswa untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang akan menggiring mereka untuk melakukan tindakan selanjutnya, dan mengarahkan mereka untuk berinkuiri bebas, (3) masalah yang tidak terstruktur mengarahkan siswa untuk menyelidiki elemen-elemen multidisiplin yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran sains di sekolahnya, (4)  masalah yang tidak terstruktur membuat siswa berpikir tentang bagaimana mereka mencari cara untuk memperoleh apa yang ingin mereka ketahui, hal ini akan memotivasi mereka menjadi lebih kreatif dalam mengumpulkan informasi dan mengumpulkan data.
     Akinoglu & Tandagon (2006) melakukan penelitian tentang efek dari pembelajaran berbasis masalah dalam pendidikan sains pada kemampuan akademik, sikap dan konsep belajar siswa. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah secara positif mempengaruhi kemampuan akademis siswa dan sikap siswa terhadap sains. Penelitian ini juga menemukan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah secara positif mempengaruhi perkembangan konseptual siswa dan mengurangi miskonsepsi yang terjadi pada siswa.
     Liu (2005) melakukan penelitian tentang motivasi siswa melalui pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan sains dari pretes ke postes dan pengetahuan dapat bertahan lama. Sikap siswa terhadap sains dan motivasi siswa meningkat dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah.
           









Tidak ada komentar:

Posting Komentar