BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian
Kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi menuntut perubahan cara dan strategi guru dalam mengajar. Guru
tidak mungkin menjadi satu-satunya sumber belajar yang mampu menuangkan segala
ilmu pengetahuan dan informasi bagi anak didik. Guru hendaknya membimbing siswa
untuk menemukan data dan informasi sendiri serta mengolah dan mengembangkannya,
oleh karena itu diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran dengan mengubah peran guru sebagai pusat informasi (teacher centered) menjadi berperan
sebagai fasilitator, mediator, dan teman yang memberikan kondisi yang kondusif
untuk terjadinya konstruksi pengetahuan.
|
1
|
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) salah satu tujuan mata pelajaran biologi adalah mengembangkan kepekaan
nalar untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan proses kehidupan dalam
kejadian sehari-hari (Depdiknas, 2003:2). Menurut Rustaman & Rustaman
(1997:9) bahwa pembelajaran biologi dewasa ini masih kering, bersifat hafalan,
dan kurang mengembangkan proses berpikir. Untuk itu diperlukan suatu
pembelajaran aktif yang lebih memberdayakan siswa.
Dalam proses pembelajaran aktif,
pembelajaran bukan lagi suatu proses yang standar, tetapi berubah ke dalam
bentuk yang disesuaikan, dimana keterampilan pemecahan masalah, berpikir
kritis, dan “belajar untuk belajar” dikembangkan (Akinoglu & Tandagon,
2006:71). Belajar memecahkan masalah adalah belajar bagaimana caranya belajar.
Untuk mencapai tujuan tersebut siswa perlu dilatih dengan suatu model pembelajaran
yang dapat membuat siswa aktif dan dapat mengembangkan kemampuan berpikir dalam
memecahkan masalah. Model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran
berbasis masalah. Menurut Duch et al. (2001:3) pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu
strategi pendidikan yang dapat membantu siswa membangun pemikirannya dan
keterampilan berkomunikasi yang dibutuhkan untuk sukses.
Pembelajaran berbasis masalah berfokus
pada penyajian suatu permasalahan kepada siswa, kemudian siswa diminta mencari
pemecahannya melalui serangkaian kegiatan dan investigasi berdasarkan teori,
konsep, dan prinsip yang dipelajarinya (Pannen dalam Suryawati, 2001:12). Guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang
membukakan pintu tetapi siswa yang memasukinya.
Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), masalah yang tak terstruktur
dalam pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan proses kognitif siswa
yang disertai dengan penalaran yang baik (Chin & Chia, 2005:64). Dalam PBM
siswa diperkenalkan pada konsep melalui masalah yang terjadi di lingkungannya.
Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa belajar secara aktif
untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa
dapat mengetahui “ mengapa mereka belajar dan apa yang mereka pelajari” ( Chin
& Cia, 2004:69).
Sanjaya (2006) mengemukakan beberapa
alasan mengenai mengapa pembelajaran berbasis masalah perlu dikembangkan. Pertama dilihat dari aspek psikologi
belajar, pembelajaran berbasis masalah berdasarkan kepada psikologi kognitif yang
berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat
adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta,
tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan
lingkungannya. Melalui pembelajaran berbasis masalah perkembangan siswa tidak
hanya terjadi pada aspek kognitif saja tetapi juga pada aspek afektif dan
psikomotor melalui penghayatan secara internal akan masalah yang dihadapi. Kedua dilihat dari aspek filosofis
tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik
agar dapat hidup di masyarakat, maka pembelajaran berbasis masalah sangat
penting dikembangkan dalam rangka memberikan latihan dan kemampuan setiap
individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Ketiga dilihat dari konteks perbaikan
kualitas pendidikan, pembelajaran berbasis masalah dapat digunakan untuk
memperbaiki sistem pembelajaran, dimana selama ini kemampuan siswa untuk
menyelesaikan suatu masalah kurang diperhatikan oleh guru.
Berdasarkan latar belakang di atas maka
penulis mencoba menerapkan model pembelajaran berbasis masalah pada konsep
Sistem Respirasi dalam rangka upaya meningkatkan penguasaan konsep, berpikir
kritis, dan sikap ilmiah siswa. Penelitian ini dilakukan pada tingkat SMP kelas
VIII semester 1 untuk konsep Sistem Respirasi.
Dalam kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam terdapat standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa. Salah satu standar
kompetensi yang harus dimiliki siswa adalah siswa mampu menganalisis sistem
organ pada organisme tertentu serta kelainan/penyakit yang mungkin terjadi
serta implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat
(Salingtemas). Diantara Kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa adalah
mengkaitkan struktur, fungsi, proses dan kelainan/penyakit yang dapat terjadi
pada sistem respirasi manusia dan hewan tertentu (Depdiknas, 2003). Untuk
mencapai kompetensi dasar tersebut siswa dapat belajar melalui masalah-masalah
gangguan sistem respirasi yang ada dalam kehidupan nyata seperti
penyakit-penyakit pada sistem respirasi. Gangguan pada sistem respirasi banyak
dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti pencemaran udara dan infeksi
mikroorganisma. Dalam pembelajaran berbasis masalah, gangguan sistem respirasi
ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mempelajari konsep sistem respirasi
pada manusia, sehingga guru dalam mengajarkan konsep sistem respirasi tidak
berupa transfer ilmu, tetapi siswa yang membangun pengetahuan mereka tentang
konsep sistem respirasi melalui masalah yang dipecahkannya.
Konsep Sistem Respirasi merupakan materi
yang menarik untuk dijadikan dasar materi penelitian pembelajaran berbasis
masalah karena pada sistem respirasi terdapat masalah-masalah berupa gangguan
pada sistem respirasi seperti penyakit ISPA, Pneumonia, Kanker paru-paru dan
Asma. Gangguan pada sistem respirasi ini dapat disebabkan oleh faktor luar
seperti asap. Di Kalimantan barat tempat penelitian ini akan dilakukan, setiap
tahunnya terjadi kebakaran hutan yang menyebabkan udara tidak sehat. Hal ini
menyebabkan jumlah penderita gangguan pernapasan terutama ISPA, Pnemonia
meningkat. Selain itu aktivitas keseharian juga terganggu seperti sekolah
diliburkan sebagai usaha mengurangi gangguan pernapasan. Dengan adanya
masalah-masalah gangguan pernapasan yang disebabkan oleh asap ini dapat
dijadikan sebagai masalah yang harus dipecahkan oleh siswa untuk mempelajari
tentang sistem respirasi dalam pembelajaran berbasis masalah. Dalam pembelajaran
ini siswa akan diarahkan untuk memecahkan masalah “ bagaimana asap dapat
menggangu sistem pernapasan pada manusia”. Dengan pemecahan masalah tersebut
siswa mempelajari sistem respirasi tidak hanya menghafal konsep-konsep saja
tetapi siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui pemecahan masalah.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Bagaimanakah meningkatkan penguasaan konsep siswa di
Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang Semadak melalui pembelajaran berbasis
masalah pada konsep sistem respirasi?”. Beberapa permasalahan dalam penelitian
ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1.
Apakah terjadi
peningkatan penguasaan konsep siswa melalui pembelajaran berbasis masalah pada
konsep system respirasi?
2.
Bagaimana tanggapan siswa
terhadap pembelajaran berbasis masalah pada konsep system respirasi di Sekolah
Menengah Pertama PGRI 02 Tapang Semadak?
C.
Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan konsep melalui
pembelajaran berbasis masalah di Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang
Semadak. Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
1.
Untuk
mengetahui peningkatan penguasaan konsep siswa melalui pembelajaran berbasis
masalah pada konsep sistem respirasi di Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang
Semadak.
2.
Untuk
mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah pada konsep
sistem respirasi di Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang Semadak.
D.
Manfaat Penelitian
1). Manfaat
Teoritis
Pengembangan
disiplin ilmu kependidikan khususnya disiplin ilmu pendidikan MIPA, dalam upaya
memberikan tambahan informasi, terutama dalam upaya menanamkan konsep belajar
IPA Biologi oleh guru mata pelajaran biologi.
2).
Manfaat Praktis
a.
Bagi Mahasiswa
Untuk
mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan menambah pengalaman, serta keterampilan
bagi mahasiswa pada umumnya dan penulis pada khususnya, untuk mempraktikkan
teori-teori yang telah diperoleh selama duduk di bangku kuliah.
b.
Bagi Jurusan Pendidikan
MIPA
Diharapkan
hasil penelitian ini dapat menjadi masukan atau kontribusi serta menambah
wawasan tentang materi penelitian bagi para mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA,
khususnya dalam melaksanakan penelitian ilmiah di masa mendatang.
c.
Bagi LPTK STKIP Persada
Khatulistiwa Sintang
Merupakan
tambahan referensi baru untuk bahan bacaan bagi mahasiswa khususnya di
perputakaan dan sumbangan pemikiran berupa Karya Tulis Ilmiah bagi STKIP.
d.
Bagi Sekolah
Diharapkan
hasil penelitian ini dapat membantu guru dalam upaya meningkatkan penguasaan konsep
khususnya pembelajaran berbasis masalah di kelas serta membangkitkan minat
belajar siswa.
E.
Ruang
Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam
penelitian mencakup variabel penelitian dan definisi operasional.
1.
Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.
a.
Variabel Bebas
Menurut
Sugiono (2009) variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah
pembelajaran berbasis masalah.
b.
Variabel Terikat
Menurut Sugiono (2009)
variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat,
karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah penguasaan konsep siswa.
2.
Definisi Operasional
Adapun definisi
operasional dalam penelitian ini adalah :
- Penguasaan Konsep. Penguasaan
konsep adalah kemampuan kognitif siswa untuk memahami makna materi sistem respirasi secara
ilmiah, baik konsep secara teori
maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan jenjang
kognitif taksonomi Bloom yang telah direvisi yang diambil sebelum dan
setelah mengikuti pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem
respirasi. Penguasaan konsep dijaring dengan tes tertulis pilihan ganda.
b.
Pembelajaran
berbasis masalah adalah model pembelajaran yang
menuntut aktivitas mental siswa dalam memahami suatu konsep, prinsip dan
keterampilan melalui situasi atau masalah yang disajikan di awal pembelajaran
dengan langkah-langkah pembelajaran : a) mengidentifikasi masalah untuk
penyelidikan b) mengeskplorasi permasalahan c) menggiring siswa untuk melakukan
penemuan ilmiah d) menempatkan informasi bersama e) mempresentasikan temuan,
evaluasi guru dan refleksi diri (Chin
& Cia, 2004:70-71).
.
F. Hipotesis Penelitian
Adapun
yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho : Tidak Terjadi peningkatan penguasaan
konsep siswa SMP pada konsep sistem respirasi setelah penerapan model pembelajaran
berbasis masalah.
H1 :
Terjadi peningkatan penguasaan konsep siswa SMP pada konsep sistem respirasi
setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar