Rabu, 28 Januari 2015

BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                                                                                                                                                                                                  
A.    Latar Belakang Penelitian
Kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut perubahan cara dan strategi guru dalam mengajar. Guru tidak mungkin menjadi satu-satunya sumber belajar yang mampu menuangkan segala ilmu pengetahuan dan informasi bagi anak didik. Guru hendaknya membimbing siswa untuk menemukan data dan informasi sendiri serta mengolah dan mengembangkannya, oleh karena itu diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan mengubah peran guru sebagai pusat informasi (teacher centered) menjadi berperan sebagai fasilitator, mediator, dan teman yang memberikan kondisi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan.
1
Sejauh ini pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai kerangka fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih terfokus kepada guru sebagai sumber pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi mengajar (Depdiknas, 2003:2). Susanto (2002:4) mengemukakan bahwa belum adanya peningkatan mutu pendidikan IPA ada hubungannya dengan belum terpecahkannya masalah-masalah yang ada dalam pembelajaran IPA. Menurut Susanto (2002:4-6) terdapat tiga permasalahan dalam pembelajaran IPA. Pertama, pendidikan sains masih berorientasi hanya pada produk pengetahuan, kurang berorientasi pada proses sains. Kedua, pengajaran sains hanya mencurahkan pengetahuan, dalam hal ini fakta, konsep, dan prinsip sains lebih banyak dicurahkan melalui ceramah, tanya jawab, atau diskusi tanpa didasarkan pada hasil kerja praktek. Ketiga, pengajaran sains berfokus pada menjawab pertanyaan, guru cenderung untuk menggunakan metode tanya-jawab, sementara jawaban yang harus dikemukakan adalah fakta, konsep, dan prinsip baku yang telah diajarkan guru atau tertulis dalam buku ajar. Seharusnya siswa menggali masalah sendiri dan menemukan jawaban atas masalahnya melalui pengamatan atau percobaan. Akinoglu & Tandagon (2006:71) mengemukakan bahwa yang diharapkan dari pendidikan adalah membentuk individu-individu untuk menjadi pemecah masalah yang efektif dalam kehidupannya.  
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) salah satu tujuan mata pelajaran biologi adalah mengembangkan kepekaan nalar untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan proses kehidupan dalam kejadian sehari-hari (Depdiknas, 2003:2). Menurut Rustaman & Rustaman (1997:9) bahwa pembelajaran biologi dewasa ini masih kering, bersifat hafalan, dan kurang mengembangkan proses berpikir. Untuk itu diperlukan suatu pembelajaran aktif yang lebih memberdayakan siswa. 
Dalam proses pembelajaran aktif, pembelajaran bukan lagi suatu proses yang standar, tetapi berubah ke dalam bentuk yang disesuaikan, dimana keterampilan pemecahan masalah, berpikir kritis, dan “belajar untuk belajar” dikembangkan (Akinoglu & Tandagon, 2006:71). Belajar memecahkan masalah adalah belajar bagaimana caranya belajar. Untuk mencapai tujuan tersebut siswa perlu dilatih dengan suatu model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif dan dapat mengembangkan kemampuan berpikir dalam memecahkan masalah. Model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran berbasis masalah. Menurut Duch  et al. (2001:3)  pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu strategi pendidikan yang dapat membantu siswa membangun pemikirannya dan keterampilan berkomunikasi yang dibutuhkan untuk sukses.
Pembelajaran berbasis masalah berfokus pada penyajian suatu permasalahan kepada siswa, kemudian siswa diminta mencari pemecahannya melalui serangkaian kegiatan dan investigasi berdasarkan teori, konsep, dan prinsip yang dipelajarinya (Pannen dalam Suryawati, 2001:12).  Guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang membukakan pintu tetapi siswa yang memasukinya.  Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), masalah yang tak terstruktur dalam pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan proses kognitif siswa yang disertai dengan penalaran yang baik (Chin & Chia, 2005:64). Dalam PBM siswa diperkenalkan pada konsep melalui masalah yang terjadi di lingkungannya. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa belajar secara aktif untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dapat mengetahui “ mengapa mereka belajar dan apa yang mereka pelajari” ( Chin & Cia, 2004:69).
Sanjaya (2006) mengemukakan beberapa alasan mengenai mengapa pembelajaran berbasis masalah perlu dikembangkan. Pertama dilihat dari aspek psikologi belajar, pembelajaran berbasis masalah berdasarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Melalui pembelajaran berbasis masalah perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif saja tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotor melalui penghayatan secara internal akan masalah yang dihadapi. Kedua dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di masyarakat, maka pembelajaran berbasis masalah sangat penting dikembangkan dalam rangka memberikan latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Ketiga dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, pembelajaran berbasis masalah dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran, dimana selama ini kemampuan siswa untuk menyelesaikan suatu masalah kurang diperhatikan oleh guru.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mencoba menerapkan model pembelajaran berbasis masalah pada konsep Sistem Respirasi dalam rangka upaya meningkatkan penguasaan konsep, berpikir kritis, dan sikap ilmiah siswa. Penelitian ini dilakukan pada tingkat SMP kelas VIII semester 1 untuk konsep Sistem Respirasi.
Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam terdapat standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa. Salah satu standar kompetensi yang harus dimiliki siswa adalah siswa mampu menganalisis sistem organ pada organisme tertentu serta kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (Salingtemas). Diantara Kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa adalah mengkaitkan struktur, fungsi, proses dan kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem respirasi manusia dan hewan tertentu (Depdiknas, 2003). Untuk mencapai kompetensi dasar tersebut siswa dapat belajar melalui masalah-masalah gangguan sistem respirasi yang ada dalam kehidupan nyata seperti penyakit-penyakit pada sistem respirasi. Gangguan pada sistem respirasi banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti pencemaran udara dan infeksi mikroorganisma. Dalam pembelajaran berbasis masalah, gangguan sistem respirasi ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mempelajari konsep sistem respirasi pada manusia, sehingga guru dalam mengajarkan konsep sistem respirasi tidak berupa transfer ilmu, tetapi siswa yang membangun pengetahuan mereka tentang konsep sistem respirasi melalui masalah yang dipecahkannya.    
Konsep Sistem Respirasi merupakan materi yang menarik untuk dijadikan dasar materi penelitian pembelajaran berbasis masalah karena pada sistem respirasi terdapat masalah-masalah berupa gangguan pada sistem respirasi seperti penyakit ISPA, Pneumonia, Kanker paru-paru dan Asma. Gangguan pada sistem respirasi ini dapat disebabkan oleh faktor luar seperti asap. Di Kalimantan barat tempat penelitian ini akan dilakukan, setiap tahunnya terjadi kebakaran hutan yang menyebabkan udara tidak sehat. Hal ini menyebabkan jumlah penderita gangguan pernapasan terutama ISPA, Pnemonia meningkat. Selain itu aktivitas keseharian juga terganggu seperti sekolah diliburkan sebagai usaha mengurangi gangguan pernapasan. Dengan adanya masalah-masalah gangguan pernapasan yang disebabkan oleh asap ini dapat dijadikan sebagai masalah yang harus dipecahkan oleh siswa untuk mempelajari tentang sistem respirasi dalam pembelajaran berbasis masalah. Dalam pembelajaran ini siswa akan diarahkan untuk memecahkan masalah “ bagaimana asap dapat menggangu sistem pernapasan pada manusia”. Dengan pemecahan masalah tersebut siswa mempelajari sistem respirasi tidak hanya menghafal konsep-konsep saja tetapi siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui pemecahan masalah.

B.        Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah meningkatkan penguasaan konsep siswa di Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang Semadak melalui pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem respirasi?”. Beberapa permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1.      Apakah terjadi peningkatan penguasaan konsep siswa melalui pembelajaran berbasis masalah pada konsep system respirasi?
2.      Bagaimana tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah pada konsep system respirasi di Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang Semadak?

C.       Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan konsep melalui pembelajaran berbasis masalah di Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang Semadak. Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
1.         Untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep siswa melalui pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem respirasi di Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang Semadak.
2.         Untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem respirasi di Sekolah Menengah Pertama PGRI 02 Tapang Semadak.

D.          Manfaat Penelitian
1).   Manfaat Teoritis
Pengembangan disiplin ilmu kependidikan khususnya disiplin ilmu pendidikan MIPA, dalam upaya memberikan tambahan informasi, terutama dalam upaya menanamkan konsep belajar IPA Biologi oleh guru mata pelajaran biologi.
2).     Manfaat Praktis
a.       Bagi Mahasiswa
Untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan menambah pengalaman, serta keterampilan bagi mahasiswa pada umumnya dan penulis pada khususnya, untuk mempraktikkan teori-teori yang telah diperoleh selama duduk di bangku kuliah.
b.      Bagi Jurusan Pendidikan MIPA
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan atau kontribusi serta menambah wawasan tentang materi penelitian bagi para mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA, khususnya dalam melaksanakan penelitian ilmiah di masa mendatang.
c.       Bagi LPTK STKIP Persada Khatulistiwa Sintang
Merupakan tambahan referensi baru untuk bahan bacaan bagi mahasiswa khususnya di perputakaan dan sumbangan pemikiran berupa Karya Tulis Ilmiah bagi STKIP.
d.      Bagi Sekolah
Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu guru  dalam upaya meningkatkan penguasaan konsep khususnya pembelajaran berbasis masalah di kelas serta membangkitkan minat belajar siswa.

E.        Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian mencakup variabel penelitian dan definisi operasional.
1.      Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.
a.       Variabel Bebas
Menurut Sugiono (2009) variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah pembelajaran berbasis masalah.
b.      Variabel Terikat
Menurut Sugiono (2009) variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah penguasaan konsep siswa.
2.      Definisi Operasional
Adapun definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
  1. Penguasaan Konsep. Penguasaan konsep adalah kemampuan kognitif siswa untuk memahami  makna materi sistem respirasi secara ilmiah, baik konsep secara teori  maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan jenjang kognitif taksonomi Bloom yang telah direvisi yang diambil sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem respirasi. Penguasaan konsep dijaring dengan tes tertulis pilihan ganda.
b.      Pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa dalam memahami suatu konsep, prinsip dan keterampilan melalui situasi atau masalah yang disajikan di awal pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajaran : a) mengidentifikasi masalah untuk penyelidikan b) mengeskplorasi permasalahan c) menggiring siswa untuk melakukan penemuan ilmiah d) menempatkan informasi bersama e) mempresentasikan temuan, evaluasi guru dan refleksi  diri (Chin & Cia, 2004:70-71).
.
F.     Hipotesis Penelitian
Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho     : Tidak Terjadi peningkatan penguasaan konsep siswa SMP pada konsep sistem respirasi setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah.
H1    : Terjadi peningkatan penguasaan konsep siswa SMP pada konsep sistem respirasi setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar