Rabu, 28 Januari 2015

BAB IV
PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

A.      Persiapan Penelitian
Ada beberapa hal yang harus di laksanakan sebelum peneliti mengadakan penelitian langsung dilapangan, yaitu:
1.    Menyusun Instrumen Penelitian
Instrumen dibuat sebelum melaksanakan seminar desain dan landasan teori. Instrumen dalam penelitian ini berupa soal pilihan ganda sebanyak 30 soal yang mengukur kemampuan kognitif siswa mulai dari C1 sampai C4. 
Intrumen lain dalam penelitian ini berupa lembar angket yang berjumlah 14 pertanyaan. Soal pilihan ganda dan angket tersebut telah diperiksa oleh pembimbing utama dan pembimbing kedua serta telah di setujui untuk dipergunakan dalam penelitian di SMP PGRI 02 Tapang Semadak.
2.    Mengurus Surat Izin Penelitian
Text Box: 40Setelah melaksanakan ujian desain dan landasan teori beserta perbaikan, peneliti lalu mengurus surat izin penelitian, dengan meminta rekomendasi dari kampus STKIP Persada Khatulistiwa Sintang. Rekomendasi tersebut merujuk pada SK Ketua STKIP Persada Khatulistiwa Sintang proses penelitian di1angsungkan pada siswa SMP PGRI 02 Tapang Semadak. Sedangkan bukti tertulis telah mengadakan penelitian adalah Surat Keterangan Kepala SMP PGRI 02 Tapang Semadak.

B.       Pelaksanaan Penelitian
Berpedoman kepada surat dari Ketua STKIP Persada Khatulistiwa proses penelitian di1angsungkan pada siswa SMP PGRI 02 Tapang Semadak sebagai subjek penelitian. Tepat pada tanggal 28 Oktober 2011, peneliti datang kelokasi penelitian yang sudah ditunjuk oleh pihak kampus untuk meminta izin dari kepala sekolah dan pada hari itu juga peneliti melakukan observasi dan meminta data yang akan diperlukan dalam mendukung penulisan desain penelitian. Penelitian selesai dilakukan pada tanggal 17 Desember 2011.

C.      Hasil Penelitian
Data yang diperoleh dan dianalisis dalam penelitian ini adalah nilai pretes dan postes penguasaan konsep sistem respirasi dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Di samping data pretes dan postes, diperoleh juga data tanggapan siswa terhadap pembelajaran.
1. Peningkatan Penguasaan Konsep Siswa
Hasil penelitian mengenai penguasaan konsep pada sistem respirasi berdasarkan hasil pretes dan postes penguasaan konsep, adalah sebagai berikut. Rata-rata pretes  49,6 dan rata-rata postes 77,05 dengan N-gain 0,55 berarti termasuk dalam kategori sedang. Peningkatan penguasaan konsep untuk setiap indikator disajikan pada Tabel 4.1
Tabel 4.1. N-Gain pada Setiap Indikator Penguasaan Konsep
Indikator                                            tor
Skor maks
Tes awal
Tes akhir
N-Gain
Kategori
Skor
%
Skor
%
Mengidentifikasi struktur, fungsi, dan proses sistem respirasi pada manusia
170
97
57,0
151
88,8
0,73
Tinggi
Mengkaitkan  struktur, fungsi dan proses sistem respirasi pada manusia
374
190
50,8
268
71,6
0,42
Sedang
Menjelaskan struktur, fungsi dan proses sistem respirasi pada manusia
306
128
41,8
220
71,9
0,52
Sedang
Mengidentifikasi kelainan/penyakit yang terjadi pada sistem respirasi
68
53
77,9
60
88,2
0,46
Sedang
Memberikan contoh teknologi yang berhubungan dengan kelainan yang terjadi pada sistem respirasi
102
38
37,2
87
85,3
0,76
Tinggi

Data pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa untuk semua indikator penguasaan konsep terdapat peningkatan. Apabila dilihat berdasarkan kategori N-Gain ternyata kategori N-Gain tinggi pada indikator mengidentifikasi struktur, fungsi dan proses sistem respirasi pada manusia dan memberi contoh teknologi yang berhubungan dengan kelainan yang terjadi pada sistem respirasi. Untuk indikator mengkaitkan struktur, fungsi, dan proses sistem respirasi pada manusia, menjelaskan struktur, fungsi dan proses sistem respirasi pada manusia, dan mengidentifikasi kelainan yang terjadi pada sistem respirasi N-Gainnya dalam kategori sedang.
   Untuk mengetahui apakah penguasaan konsep pada sistem respirasi dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah telah mencapai ketuntasan, dilakukan pengujian rerata satu sampel dengan uji-Z (Ruseffendi, 1998: 305-308). Uji-Z ini dilakukan untuk melihat perbedaan rerata nilai postes dengan standar nilai ketuntasan belajar yaitu 65. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh Zhitung 7,22 dan Zkritis  ± 1,96 untuk α = 0,05. Hal ini  menunjukkan bahwa Zhitung berada pada daerah penolakan H0 sehingga H1 diterima. Hal ini berarti secara statistik penguasaan konsep siswa telah tuntas. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran .
   Persentase ketuntasan belajar penguasaan konsep dengan pembelajaran berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.2
Tabel 4.2 Ketuntasan Belajar Penguasaan Konsep

No
Penguasaan Konsep
Jumlah
%
Kategori
1
Tuntas
30
88%
Baik
2
Tidak tuntas
4
12%

Jumlah Siswa
34
100%



2. Tanggapan Siswa Terhadap Pembelajaran
a. Persepsi Siswa Tentang Pembelajaran Berbasis Masalah
   Persepsi siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah digali dari pernyataan nomor 1,2, dan 3. Hasil analisis data dapat dilihat pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Persepsi Siswa Tentang Pembelajaran

Keterangan :  
SS : Sangat setuju, S : Setuju, TS : Tidak setuju, STS : Sangat tidak setuju
1. Model pembelajaran merupakan model pembelajaran yang baru
2. Kegiatan pembelajaran sistem respirasi dengan menggunakan masalah -masalah  pada   sistem respirasi membuat saya lebih tertarik terhadap materi biologi
3. Model yang digunakan pada materi sistem respirasi sama dengan model  pembelajaran  sebelumnya
                     
Gambar 4.1 menunjukkan pada pernyataan 1,  26% siswa sangat setuju dan 59% setuju bahwa model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang baru. Hanya 12% siswa yang tidak setuju dan 3% siswa yang sangat tidak setuju bahwa model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang baru. Pada pernyataan 2, 32% siswa sangat setuju, 68% siswa setuju, 0% tidak setuju dan 0% sangat tidak setuju akan pernyataan bahwa pembelajaran dengan menggunakan masalah membuat mereka lebih tertarik. Pada pernyataan 3 terdapat 88% siswa tidak setuju dan 9% siswa sangat tidak setuju bahwa model pembelajaran yang digunakan pada sistem respirasi sama dengan model pembelajaran sebelumnya. Berdasarkan data di atas bagi sebagian besar siswa pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran baru dalam pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Hal ini menunjukkan bahwa siswa baru untuk pertama kalinya mendapatkan pengalaman belajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah.
Untuk menunjukkan apakah persepsi siswa tentang pembelajaran berbasis masalah positif atau negatif dilakukan dengan membandingkan skor netral dan skor respon siswa. Rekapitulasi skor persepsi siswa tentang pembelajaran berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Rekapitulasi Skor Persepsi Siswa tentang Pembelajaran Berbasis  masalah

Indikator
No Soal
Sifat Pernyatan
Frekuensi jawaban dan Skor
Skor Netral
Skor Respon
SS
S
TS
STS
Item
Kls
Item
Kls
Persepsi siswa
tentang pembelajaran
berbasis masalah
   
1
Positif
9
20
4
1
1,75
2,2
2,35
3,3


4
2
1
0
2
Positif
11
23
0
0
2
3,64


5
3
0
0
3
Negatif
0
1
30
3
2,75
4,03


0
2
4
5

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa skor rata-rata tanggapan siswa pada setiap butir pernyataan lebih besar daripada skor netral. Skor pada tiap butir pernyataan tersebut adalah sebagai berikut : untuk pernyataan nomor 1 yaitu 2,35 > 1,75, pernyataan nomor 2 yaitu 3,64 > 2, dan pernyataan nomor 3 yaitu 4,03 > 2,75. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang pembelajaran berbasis masalah secara keseluruhan (34 orang) adalah  positif.


b. Motivasi Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah
   Tanggapan siswa tentang motivasi siswa dalam pembelajaran berbasis masalah di gali dari pernyataan nomor 4,7, dan 8. Hasil analisis data disajikan pada Gambar 4.2 berikut.
Gambar 4.2 Motivasi Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah

Keterangan 
SS : Sangat setuju, S : Setuju, TS : Tidak setuju
1. Model Pembelajaran dapat membuat saya termotivasi dalam mengenali  lingkungan sekitar
2. Cara guru bertanya membuat saya ingin tahu untuk menjawabnya
3. Stategi yang digunakan guru untuk mengorientasikan siswa pada  pengajuan masalah, membuat saya termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran

   Gambar 4.2 menunjukkan 35% siswa sangat setuju dan 65% setuju bahwa model pembelajaran berbasis masalah dapat memotivasi siswa dalam mengenali lingkungan sekitar. Berdasarkan data pada Gambar 4.2 dapat diketahui bahwa semua siswa termotivasi mengenali lingkungan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
   Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru untuk merangsang siswa memunculkan masalah-masalah dan pemecahannya serta strategi guru dalam mengorientasikan pada pengajuan masalah dapat membuat siswa termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran. Hal ini dapat diketahui dari tanggapan siswa pada Gambar 4.2 yang menunjukkan 24% siswa sangat setuju, 71% siswa setuju bahwa cara guru bertanya membuat siswa ingin tahu untuk menjawabnya. Selanjutnya 21% siswa sangat setuju, 76% siswa setuju mengenai strategi yang digunakan guru untuk mengorientasikan siswa pada pengajuan masalah, membuat siswa termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran.
 Untuk menunjukkan apakah motivasi siswa dalam pembelajaran berbasis masalah positif atau negatif  dengan membandingakan skor netral dan skor respon siswa. Rekapitulasi skor motivasi siswa dalam pembelajaran berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Rekapitulasi Skor Motivasi Siswa dalam Pembelajaran Berbasis Masalah

Indikator
No Soal
Sifat Pernyatan
Frekuensi Jawaban dan Skor
Skor Netral
Skor Respon
SS
S
TS
STS
Item
Kls
Item
Kls
Motivasi siswa
terhadap pembelajaran
berbasis masalah



4
Positif
12
22
0
0
1.75
2.25
3.7
3.41


5
3
0
0
7
Positif
8
24
2
0
2.5
3.41


5
3
2
0
8
Positif
7
26
1
0
2.5
3.38


5
3
2
0

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa skor rata-rata tanggapan siswa pada setiap butir pernyataan lebih besar daripada skor netral. Skor pada tiap butir pernyataan tersebut adalah sebagai berikut : untuk pernyataan nomor 4 yaitu 3,7 > 1,75, pernyataan nomor 7 yaitu 3,41 > 2,25 dan pernyataan nomor 8 yaitu 3,38 > 2,5. Data ini menunjukkan bahwa motivasi siswa dalam pembelajaran berbasis masalah secara keseluruhan (34 orang) adalah  positif. Hal ini berarti bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah membuat siswa termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran.
c.  Kesukaan Siswa Terhadap Pembelajaran Berbasis Masalah

   Tanggapan tentang kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah digali dari pernyataan nomor 5, 6, 9, 10,11, dan 12.  Hasil analisis data disajikan pada Gambar 4.3 berikut.
Gambar 4.3 Kesukaan Siswa Terhadap Pembelajaran Berbasis Masalah

Keterangan :
SS : Sangat setuju, S : Setuju, TS : Tidak setuju, STS : Sangat tidak setuju
1.    Banyak ilmu yang saya dapatkan melalui pembelajaran berbasis  masalah    pada sistem respirasi.
2.    Saya tidak mengerti maksud pembelajaran yang digunakan guru tentang    materi sistem respirasi.
3.    Saya sangat menyenangi model pembelajaran yang digunakan pada  materi sistem respirasi.
4.    Model pembelajaran yang digunakan guru tentang sisitem respirasi  membuat saya bingung.
5.    Tugas-tugas yang diberikan guru menghambat kreativitas saya
6.    Pembelajaran secara keseluruhan sangat membosankan.

   Gambar 4.3 menunjukkan 47%  siswa sangat setuju dan 50% siswa setuju bahwa banyak ilmu yang didapatkan siswa dengan pembelajaran berbasis masalah, hanya 3% pendapat siswa yang mengemukakan tidak setuju dan 0% yang mengemukakan sangat tidak setuju. Dari data tersebut hampir seluruh siswa mengemukakan bahwa banyak ilmu yang diperoleh melalui pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem respirasi.
Berdasarkan Gambar 4.3 juga menunjukkan 71% siswa tidak setuju, 26% siswa sangat tidak setuju dengan pernyataan “saya tidak mengerti maksud pembelajaran yang digunakan guru tentang materi sistem respirasi. Hal ini didukung oleh pendapat siswa 32% sangat setuju dan 68% setuju bahwa siswa senang dengan model pembelajaran yang digunakan pada sistem respirasi. Kemudian siswa  memberikan  pendapat 88% siswa tidak setuju, 12 %  sangat tidak setuju dan 0% yang menyatakan setuju dan sangat tidak setuju  bahwa model pembelajaran yang digunakan guru tentang sistem respirasi membuat siswa bingung. Kesukaan siswa terhadap model pembelajaran dapat juga diketahui dari pernyataan “pembelajaran secara keseluruhan membosankan”, 65% siswa tidak setuju dan 24% sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Untuk menunjukkan kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah positif atau negatif  dengan membandingakan skor netral dan skor respon siswa. Rekapitulasi skor kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.5.




Tabel 4.5 Rekapitulasi Skor Kesukaan Siswa terhadap Pembelajaran Berbasis Masalah

Indikator
No Soal
Sifat Pernyatan
Frekuensi Jawaban dan Skor
Skor Netral
Skor Respon
SS
S
TS
STS
Item
Kls
Item
Kls
Kesukaan siswa
tehadap pembelajaran
berbasis masalah








5
Positif
16
17
1
0
2.25
2.46
3.44
3.69


4
3
2
0
6
Negatif
0
1
24
9
2.5
3.5


0
2
3
5
9
Positif
11
23
0
0
2.5
3.56


5
3
2
0
10
Negatif
0
0
30
4
2.25
4.11


0
0
4
5
11
Negatif
0
1
24
9
2.5
3.5


0
2
3
5
12
Negatif
0
4
22
8
2.75
4


0
2
4
5

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa skor rata-rata tanggapan siswa pada setiap butir pernyataan lebih besar daripada skor netral. Skor pada tiap butir pernyataan tersebut adalah sebagai berikut : pernyataan nomor 5 yaitu 3,44 > 2,25, pernyataan nomor 6 yaitu 3,5 > 2,5, pernyataan nomor 9 yaitu 3,56 > 2,5, pernyataan nomor 10 yaitu 4,11 > 2,25, pernyataan nomor 11 yaitu 3,5 > 2,5 dan pernyataan nomor 12 yaitu 3,69 > 2,46. Data ini menunjukkan kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah secara keseluruhan (34 orang) adalah  positif. Hal ini berarti bahwa siswa menyukai belajar dengan pembelajaran berbasis masalah.
d. Minat belajar siswa dalam mempelajari sistem respirasi
Tanggapan tentang minat belajar siswa dalam mempelajari sistem respirasi digali dari pernyataan nomor 13 dan 14. Hasil analisis data disajikan pada Gambar 4.4.
              
            Gambar 4.4 Minat belajar siswa dalam mempelajari sistem respirasi
Keterangan :
SS : Sangat setuju, S : Setuju
1.    Saya senang dengan adanya kesempatan yang diberikan guru untuk  mengajukan masalah  dalampembelajaran.
2.    Saya senang karena dalam pembelajaran ini saya dapat menghasilkan produk atau   karya
           
Gambar 4.4 menunjukkan 36% siswa sangat setuju dan 62% setuju dengan pernyataan “saya senang dengan adanya kesempatan yang diberikan guru untuk mengajukan masalah dalam pembelajaran”, dan tidak ada siswa  yang tidak setuju (0% tidak setuju dan sangat tidak setuju) dengan pernyataan tersebut. Minat belajar siswa dalam mempelajari sistem respirasi dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah juga ditunjukkan dengan pernyataan siswa 32% sangat setuju dan 68% setuju bahwa siswa senang dalam belajar karena dapat menghasilkan produk atau karya.
Untuk menunjukkan apakah minat belajar siswa dalam mempelajari sistem respirasi dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah positif atau negatif adalah dengan membandingkan skor netral dan skor respon siswa. Rekapitulasi skor minat siswa dalam pembelajaran berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Rekapitulasi Skor Minat Belajar Siswa dalam Mempelajari SistemRespirasi

Indikator
No Soal
Sifat Pernyatan
Frekuensi Jawaban dan Skor
Skor Netral
Skor Respon
SS
S
TS
STS
Item
Kelas
Item
Kelas
Minat belajar siswa
dalam mempelajari
sistem respirasi
13
Positif
13
21
0
0
2
2
3,76
3,7


5
3
0
0
   14
Positif
11
23
0
0


2


3,64


5
3
0
0

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa skor rata-rata tanggapan siswa pada setiap butir pernyataan lebih besar daripada skor netral. Skor pada tiap butir pernyataan tersebut adalah sebagai berikut : untuk pernyataan nomor 13 yaitu 3,76 > 2, pernyataan nomor 14 yaitu 3,7 > 2. Data ini menunjukkan kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah secara keseluruhan (34 orang) adalah  positif. Hal ini berarti bahwa siswa berminat belajar dengan menggunakan model pembelajaran yang digunakan pada materi sistem respirasi.

B. Pembahasan

1. Peningkatan Penguasaan Konsep

Berdasarkan analisis data hasil penelitian, pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada konsep sistem respirasi. Hal ini dapat terlihat dari  N-gain 0,55 dengan kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar siswa 88% dengan kategori baik.
Peningkatan pengusaan konsep yang terjadi dalam penelitian ini dimungkinkan kerena pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa dengan menyajikan suatu permasalahan, kemudian siswa diminta untuk mencari pemecahannya melalui serangkaian kegiatan dan investigasi berdasarkan teori, konsep, dan prinsip yang dipelajarinya. Dalam pembelajaran ini guru bertindak sebagai fasilitator, bukan sebagai pemberi informasi, siswalah yang aktif membangun konsep-konsep yang baru melalui masalah yang harus dipecahkannya. Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk mengidentifikasi masalah, mengeksplorasi permasalahan dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang dibutuhkan untuk menjawab masalah, kemudian siswa menentukan apa yang akan dilakukan untuk memperoleh informasi dari pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka munculkan. Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, siswa dapat melakukan penyelidikan ilmiah melalui percobaan dilaboratorium, wawancara dengan para ahli, survey atau informasi dari buku-buku maupun dari sumber lain yang menunjang. Berdasarkan hasil observasi selama pembelajaran berlangsung dalam penelitian ini, siswa menggunakan berbagai sumber belajar seperti buku-buku pendukung selain buku teks, siswa juga menggali informasi dari internet, bahkan ada satu kelompok siswa yang melakukan wawancara dengan para ahli yaitu dokter. Dengan menggunakan berbagai sumber belajar, hal ini tentu akan memperkaya wawasan dan pengetahuan siswa. Hal ini dapat juga terlihat dari hasil tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah. Siswa 97% setuju ( 47% sangat setuju dan 50% setuju), dengan pernyataan bahwa “ banyak ilmu yang bisa saya dapatkan melalui pembelajaran berbasis masalah“. Dengan pembelajaran aktif  memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat  Piaget (Ibrahim, 2004)  yang mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Selanjutnya Piaget (Ibrahim, 2004)  mengemukakan bahwa pedagogi yang baik harus melibatkan pemberian anak dengan situasi-situasi dimana anak itu mandiri melakukan eksperimen, mengajukan pertanyaan dan menemukan sendiri jawabannya, mencocokkan apa yang mereka temukan pada saat yang lain, membandingkan temuannya dengan temuan orang lain. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Bruner yang menyatakan berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Dahar, 1989:103). McBrien & Brandt (Salmiyati, 2007:83) menyatakan hal yang sama bahwa siswa mendapatkan pembelajaran yang terbaik melalui pencarian dan pembelajaran aktif.
Masalah-masalah sistem respirasi yang diberikan kepada siswa dalam pembelajaran berbasis masalah dapat memotivasi siswa untuk belajar. Hal ini dapat terlihat dari tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah  dimana 97% siswa setuju (21% sangat setuju dan 76% setuju) bahwa dengan adanya permasalahan siswa termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran. Motivasi siswa merupakan hal yang menentukan keberhasilan dalam pembelajaran. Dengan adanya motivasi siswa akan tergerak untuk belajar sehingga mempengaruhi hasil belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (2002:119) yang mengemukakan bahwa hasil belajar akan meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah. Selanjutnya Djamarah (2002:119) mengemukakan bahwa sesorang melakukan aktvitas belajar karena ada yang mendorongnya, motivasilah sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang. Dengan adanya motivasi yang kuat dari siswa untuk belajar maka siswa akan memperoleh ilmu yang sebanyak-banyaknya.
Salah satu karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah belajar dalam kelompok kecil. Aktifitas dalam kelompok kecil ini meliputi mengeksplorasi permasalahan, berbagi tugas dalam menggali informasi, kemudian tiap anggota kelompok melaporkan kepada anggota kelompoknya yang lain tentang informasi yang diperolehnya. Aktivitas ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi, dan saling bertukar informasi sehingga dapat mengembangkan kemampuan dan pengetahuan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Vygotsky (Ibrahim, 2004) yang mengemukakan bahwa interaksi sosial dengan teman lain membantu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual seseorang. Selanjutnya Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain (Jarvis, 2006:155).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan penguasaan konsep untuk setiap indikator pembelajaran dengan peningkatan kategori tinggi pada indikator mengidentifikasi struktur, fungsi dan proses sistem respirasi pada manusia dan indikator memberikan contoh teknologi yang berhubungan dengan kelainan yang terjadi pada sistem respirasi. Peningkatan yang tinggi pada kedua indikator ini dimungkinkan karena soal yang digunakan untuk kedua indikator ini yaitu  soal nomor 3,9,16,24,27, 28,29,30 umumnya tingkat kesukaran soal berkategori mudah (Tabel.3.2) dan jenjang kognitif pada soal-soal ini meliputi jenjang kognitif C1 dan C2. Hal ini dapat mempengaruhi hasil postes siswa sehingga skor postes kedua indikator tersebut tinggi, dan N-gainnya tinggi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryawati (2006:11) pada konsep sistem respirasi dan transportasi hewan yang berkesimpulan bahwa daya serap dan ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah.

2. Tanggapan Siswa terhadap Pembelajaran Berbasis Masalah
Berdasarkan hasil analisis data tentang tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah menunjukkan tanggapan siswa positif terhadap pembelajaran berbasis masalah. Mengenai persepsi siwa tentang pembelajaran berbasis masalah adalah sebagian besar siswa berpendapat bahwa model pembelajaran yang diterapkan oleh guru merupakan model pembelajaran yang baru. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil pengamatan aktivitas pembelajaran, dimana siswa pada awalnya masih kelihatan bingung dengan tugas-tugas dalam pembelajaran seperti memunculkan pertanyaan-pertanyaan untuk menyelesaikan masalah.
Mengenai tanggapan siswa tentang motivasi dalam pembelajaran berbasis masalah, siswa menanggapi positif dan merasa termotivasi  untuk aktif dalam pembelajaran. Hal ini dimungkinkan karena siswa dihadapkan kepada masalah yang menantang mereka untuk memecahkannya. Masalah yang diberikan adalah masalah nyata yang ada dalam kehidupan siswa sehingga siswa termotivasi untuk memecahkannya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Allen, Duch & Groh (2001) bahwa masalah yang harus dipecahkan siswa adalah masalah yang kompleks dan nyata dalam kehidupan, semuanya ini digunakan untuk memotivasi siswa agar siswa mengidentifikasi dan mencari konsep dan prinsip dalam membahas masalah yang telah diberikan. Motivasi siswa dalam pembelajaran berbasis masalah ini dapat dilihat dari aktivitas siswa selama pembelajaran dan karya yang dihasilkan siswa. Setiap kelompok berusaha untuk menanpilkan karya sebaik mungkin.
Berdasarkan hasil penelitian, siswa juga memberikan tanggapan positif terhadap pernyataan kesukaan dan minat dalam pembelajaran berbasis masalah. Hal ini menunjukkan bahwa siswa berminat dan menyukai belajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah. Hal ini dimungkinkan karena pembelajaran berbasis masalah mengubah peran siswa dari pembelajar yang pasif menjadi pembelajar yang aktif. Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menyelesaikan masalahnya. Guru bukan lagi sebagai pemberi informasi tetapi siswalah yang aktif membangun pengetahuannya melalui masalah yang dipecahkannya. Melalui pembelajaran berbasis masalah siswa mengidentifikasi, mengeksplorasi permasalahannya, melakukan penyelidikan ilmiah dan menampilkan hasil penemuannya kepada orang lain. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa ini akan menumbuhkan minat dan kesukaan siswa terhadap pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Piaget (Oakley, 2004:31) yang mengemukakan bahwa anak-anak tidak hanya menyerap pengetahuan saja, tetapi mereka belajar dengan aktif terlibat dalam proses. Selanjutnya Piaget (Oakley, 2004:31) mengemukakan bahwa pembelajaran yang baik memerlukan keikutsertaan, keterlibatan aktif, yang akan membawa kepada pemahaman dan minat yang lebih besar.

Tanggapan siswa yang positif terhadap pembelajaran berbasis masalah dalam penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Liu (2005) tentang motivasi siswa melalui pembelajaran berbassis masalah. Kesimpulan dari penelitian Liu (2005) adalah bahwa motivasi dan sikap siswa terhadap sains meningkat dengan pembelajaran berbasis masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar