BAB IV
PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
A. Persiapan
Penelitian
Ada beberapa
hal yang harus di laksanakan sebelum peneliti mengadakan penelitian langsung
dilapangan, yaitu:
1. Menyusun
Instrumen Penelitian
Instrumen dibuat
sebelum melaksanakan seminar desain dan landasan teori. Instrumen dalam
penelitian ini berupa soal pilihan ganda sebanyak 30 soal yang mengukur
kemampuan kognitif siswa mulai dari C1 sampai C4.
Intrumen lain dalam
penelitian ini berupa lembar angket yang berjumlah 14 pertanyaan. Soal pilihan
ganda dan angket tersebut telah diperiksa oleh pembimbing utama dan pembimbing
kedua serta telah di setujui untuk dipergunakan dalam penelitian di SMP
PGRI 02 Tapang Semadak.
2. Mengurus
Surat Izin Penelitian
B. Pelaksanaan
Penelitian
Berpedoman kepada surat dari Ketua
STKIP Persada Khatulistiwa proses penelitian di1angsungkan pada siswa SMP
PGRI 02 Tapang Semadak sebagai subjek penelitian.
Tepat pada tanggal 28 Oktober 2011, peneliti datang kelokasi penelitian yang
sudah ditunjuk oleh pihak kampus untuk meminta izin dari kepala sekolah dan
pada hari itu juga peneliti melakukan observasi dan meminta data yang akan
diperlukan dalam mendukung penulisan desain penelitian. Penelitian selesai
dilakukan pada tanggal 17 Desember 2011.
C.
Hasil Penelitian
Data yang diperoleh dan dianalisis dalam
penelitian ini adalah nilai pretes dan postes penguasaan konsep sistem
respirasi dengan
menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Di samping data pretes dan
postes, diperoleh juga data tanggapan siswa terhadap pembelajaran.
1. Peningkatan Penguasaan Konsep Siswa
Hasil penelitian mengenai penguasaan
konsep pada sistem respirasi berdasarkan hasil pretes dan postes penguasaan
konsep, adalah sebagai berikut. Rata-rata pretes
49,6 dan rata-rata postes 77,05 dengan N-gain 0,55 berarti termasuk
dalam kategori sedang. Peningkatan penguasaan konsep untuk setiap indikator disajikan pada Tabel 4.1
Tabel 4.1.
N-Gain pada Setiap Indikator Penguasaan Konsep
|
Indikator tor
|
Skor
maks
|
Tes
awal
|
Tes
akhir
|
N-Gain
|
Kategori
|
||
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
||||
|
Mengidentifikasi struktur, fungsi, dan proses
sistem respirasi pada manusia
|
170
|
97
|
57,0
|
151
|
88,8
|
0,73
|
Tinggi
|
|
Mengkaitkan
struktur, fungsi dan proses sistem respirasi pada manusia
|
374
|
190
|
50,8
|
268
|
71,6
|
0,42
|
Sedang
|
|
Menjelaskan struktur, fungsi dan proses sistem
respirasi pada manusia
|
306
|
128
|
41,8
|
220
|
71,9
|
0,52
|
Sedang
|
|
Mengidentifikasi kelainan/penyakit yang terjadi
pada sistem respirasi
|
68
|
53
|
77,9
|
60
|
88,2
|
0,46
|
Sedang
|
|
Memberikan contoh teknologi yang berhubungan
dengan kelainan yang terjadi pada sistem respirasi
|
102
|
38
|
37,2
|
87
|
85,3
|
0,76
|
Tinggi
|
Data
pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa untuk semua indikator penguasaan konsep terdapat peningkatan. Apabila
dilihat berdasarkan kategori N-Gain ternyata kategori N-Gain tinggi pada
indikator mengidentifikasi struktur, fungsi dan proses sistem respirasi pada
manusia dan memberi contoh teknologi yang berhubungan dengan kelainan yang
terjadi pada sistem respirasi. Untuk indikator mengkaitkan struktur, fungsi,
dan proses sistem respirasi pada manusia, menjelaskan struktur, fungsi dan
proses sistem respirasi pada manusia, dan mengidentifikasi kelainan yang
terjadi pada sistem respirasi N-Gainnya dalam kategori sedang.
Untuk mengetahui apakah penguasaan konsep
pada sistem respirasi dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah
telah mencapai ketuntasan, dilakukan pengujian rerata satu sampel dengan uji-Z
(Ruseffendi, 1998: 305-308). Uji-Z ini dilakukan untuk melihat perbedaan rerata
nilai postes dengan standar nilai ketuntasan belajar yaitu 65. Berdasarkan
hasil analisis data diperoleh Zhitung
7,22 dan Zkritis ± 1,96 untuk α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Zhitung berada pada daerah penolakan H0
sehingga H1 diterima. Hal ini berarti secara statistik penguasaan
konsep siswa telah tuntas. Hasil
perhitungan dapat dilihat pada Lampiran .
Persentase ketuntasan belajar penguasaan konsep dengan pembelajaran
berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.2
Tabel 4.2 Ketuntasan Belajar
Penguasaan Konsep
|
No
|
Penguasaan Konsep
|
Jumlah
|
%
|
Kategori
|
|
1
|
Tuntas
|
30
|
88%
|
Baik
|
|
2
|
Tidak tuntas
|
4
|
12%
|
|
|
Jumlah Siswa
|
34
|
100%
|
|
|
2. Tanggapan
Siswa Terhadap Pembelajaran
a. Persepsi
Siswa Tentang Pembelajaran Berbasis Masalah
Persepsi siswa terhadap pembelajaran
berbasis masalah digali dari pernyataan nomor 1,2, dan 3. Hasil analisis data dapat dilihat pada
Gambar 4.1

Gambar 4.1 Persepsi
Siswa Tentang Pembelajaran
Keterangan :
SS
: Sangat setuju, S : Setuju, TS : Tidak setuju, STS : Sangat tidak setuju
1.
Model pembelajaran merupakan model pembelajaran yang baru
2. Kegiatan pembelajaran sistem respirasi dengan menggunakan
masalah -masalah pada sistem respirasi membuat saya lebih tertarik
terhadap materi biologi
3. Model yang digunakan pada materi sistem respirasi
sama dengan model pembelajaran sebelumnya
Gambar 4.1 menunjukkan pada pernyataan 1, 26% siswa sangat setuju dan 59% setuju bahwa
model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang baru.
Hanya 12% siswa yang tidak setuju dan 3% siswa yang sangat tidak setuju bahwa
model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang baru.
Pada pernyataan 2, 32% siswa sangat setuju, 68% siswa setuju, 0% tidak setuju
dan 0% sangat tidak setuju akan pernyataan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan masalah membuat mereka lebih tertarik. Pada pernyataan 3 terdapat
88% siswa tidak setuju dan 9% siswa sangat tidak setuju bahwa model
pembelajaran yang digunakan pada sistem respirasi sama dengan model
pembelajaran sebelumnya. Berdasarkan data di atas bagi sebagian besar siswa
pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran baru dalam
pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Hal ini menunjukkan bahwa siswa baru
untuk pertama kalinya mendapatkan pengalaman belajar dengan menggunakan
pembelajaran berbasis masalah.
Untuk menunjukkan apakah persepsi siswa tentang
pembelajaran berbasis masalah positif atau negatif dilakukan dengan
membandingkan skor netral dan skor respon siswa. Rekapitulasi skor persepsi
siswa tentang pembelajaran berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Rekapitulasi Skor Persepsi Siswa tentang Pembelajaran
Berbasis masalah
|
Indikator
|
No Soal
|
Sifat Pernyatan
|
Frekuensi jawaban dan Skor
|
Skor Netral
|
Skor
Respon
|
|||||
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
Item
|
Kls
|
Item
|
Kls
|
|||
|
Persepsi
siswa
tentang
pembelajaran
berbasis
masalah
|
1
|
Positif
|
9
|
20
|
4
|
1
|
1,75
|
2,2
|
2,35
|
3,3
|
|
|
|
4
|
2
|
1
|
0
|
|||||
|
2
|
Positif
|
11
|
23
|
0
|
0
|
2
|
3,64
|
|||
|
|
|
5
|
3
|
0
|
0
|
|||||
|
3
|
Negatif
|
0
|
1
|
30
|
3
|
2,75
|
4,03
|
|||
|
|
|
0
|
2
|
4
|
5
|
|||||
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa skor rata-rata tanggapan siswa pada setiap
butir pernyataan lebih besar daripada skor netral. Skor pada tiap butir
pernyataan tersebut adalah sebagai berikut : untuk pernyataan nomor 1 yaitu
2,35 > 1,75, pernyataan nomor 2 yaitu 3,64 > 2, dan pernyataan nomor 3
yaitu 4,03 > 2,75. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang
pembelajaran berbasis masalah secara keseluruhan (34 orang) adalah positif.
b. Motivasi
Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah
Tanggapan
siswa tentang motivasi siswa dalam pembelajaran berbasis masalah di gali dari
pernyataan nomor 4,7, dan 8. Hasil analisis data disajikan pada Gambar 4.2
berikut.

Gambar 4.2 Motivasi
Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah
Keterangan
SS : Sangat setuju, S : Setuju, TS : Tidak setuju
1. Model Pembelajaran dapat membuat
saya termotivasi dalam mengenali
lingkungan sekitar
2. Cara guru bertanya membuat saya ingin tahu untuk
menjawabnya
3. Stategi yang digunakan guru untuk mengorientasikan
siswa pada pengajuan masalah, membuat
saya termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran
Gambar 4.2
menunjukkan 35% siswa sangat setuju dan 65% setuju bahwa model pembelajaran
berbasis masalah dapat memotivasi siswa dalam mengenali lingkungan sekitar.
Berdasarkan data pada Gambar 4.2 dapat diketahui bahwa semua siswa termotivasi
mengenali lingkungan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
Pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan oleh guru untuk merangsang siswa memunculkan masalah-masalah dan
pemecahannya serta strategi guru dalam mengorientasikan pada pengajuan masalah
dapat membuat siswa termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran. Hal ini dapat
diketahui dari tanggapan siswa pada Gambar 4.2 yang menunjukkan 24% siswa
sangat setuju, 71% siswa setuju bahwa cara guru bertanya membuat siswa ingin
tahu untuk menjawabnya. Selanjutnya 21% siswa sangat setuju, 76% siswa setuju
mengenai strategi yang digunakan guru untuk mengorientasikan siswa pada
pengajuan masalah, membuat siswa termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran.
Untuk
menunjukkan apakah motivasi siswa dalam pembelajaran berbasis masalah positif
atau negatif dengan membandingakan skor
netral dan skor respon siswa. Rekapitulasi skor motivasi siswa dalam pembelajaran
berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Rekapitulasi Skor Motivasi Siswa dalam Pembelajaran Berbasis
Masalah
|
Indikator
|
No Soal
|
Sifat Pernyatan
|
Frekuensi Jawaban dan Skor
|
Skor Netral
|
Skor
Respon
|
|||||
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
Item
|
Kls
|
Item
|
Kls
|
|||
|
Motivasi
siswa
terhadap
pembelajaran
berbasis
masalah
|
4
|
Positif
|
12
|
22
|
0
|
0
|
1.75
|
2.25
|
3.7
|
3.41
|
|
|
|
5
|
3
|
0
|
0
|
|||||
|
7
|
Positif
|
8
|
24
|
2
|
0
|
2.5
|
3.41
|
|||
|
|
|
5
|
3
|
2
|
0
|
|||||
|
8
|
Positif
|
7
|
26
|
1
|
0
|
2.5
|
3.38
|
|||
|
|
|
5
|
3
|
2
|
0
|
|||||
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa skor rata-rata tanggapan siswa pada setiap
butir pernyataan lebih besar daripada skor netral. Skor pada tiap butir
pernyataan tersebut adalah sebagai berikut : untuk pernyataan nomor 4 yaitu 3,7
> 1,75, pernyataan nomor 7 yaitu 3,41 > 2,25 dan pernyataan nomor 8 yaitu
3,38 > 2,5. Data ini menunjukkan bahwa motivasi siswa dalam pembelajaran
berbasis masalah secara keseluruhan (34 orang) adalah positif. Hal ini berarti bahwa pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah membuat siswa
termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran.
c. Kesukaan Siswa Terhadap Pembelajaran Berbasis
Masalah
Tanggapan
tentang kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah digali dari
pernyataan nomor 5, 6, 9, 10,11, dan 12.
Hasil analisis data disajikan pada Gambar 4.3 berikut.

Gambar 4.3 Kesukaan
Siswa Terhadap Pembelajaran Berbasis Masalah
Keterangan :
SS : Sangat setuju, S : Setuju, TS : Tidak setuju, STS
: Sangat tidak setuju
1. Banyak ilmu yang saya dapatkan melalui pembelajaran
berbasis masalah pada sistem respirasi.
2. Saya tidak mengerti maksud pembelajaran yang digunakan
guru tentang materi sistem respirasi.
3. Saya sangat menyenangi model pembelajaran yang
digunakan pada materi sistem respirasi.
4. Model pembelajaran yang
digunakan guru tentang sisitem respirasi
membuat saya bingung.
5. Tugas-tugas yang
diberikan guru menghambat kreativitas saya
6. Pembelajaran secara
keseluruhan sangat membosankan.
Gambar 4.3 menunjukkan 47% siswa sangat setuju dan 50% siswa setuju
bahwa banyak ilmu yang didapatkan siswa dengan pembelajaran berbasis masalah,
hanya 3% pendapat siswa yang mengemukakan tidak setuju dan 0% yang mengemukakan
sangat tidak setuju. Dari data tersebut hampir seluruh siswa mengemukakan bahwa
banyak ilmu yang diperoleh melalui pembelajaran berbasis masalah pada konsep
sistem respirasi.
Berdasarkan Gambar 4.3 juga menunjukkan 71% siswa
tidak setuju, 26% siswa sangat tidak setuju dengan pernyataan “saya tidak
mengerti maksud pembelajaran yang digunakan guru tentang materi sistem
respirasi. Hal ini didukung oleh pendapat siswa 32% sangat setuju dan 68%
setuju bahwa siswa senang dengan model pembelajaran yang digunakan pada sistem
respirasi. Kemudian siswa
memberikan pendapat 88% siswa
tidak setuju, 12 % sangat tidak setuju
dan 0% yang menyatakan setuju dan sangat tidak setuju bahwa model pembelajaran yang digunakan guru
tentang sistem respirasi membuat siswa bingung. Kesukaan siswa terhadap model
pembelajaran dapat juga diketahui dari pernyataan “pembelajaran secara
keseluruhan membosankan”, 65% siswa tidak setuju dan 24% sangat tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
Untuk menunjukkan kesukaan siswa terhadap pembelajaran
berbasis masalah positif atau negatif
dengan membandingakan skor netral dan skor respon siswa. Rekapitulasi
skor kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah disajikan pada Tabel
4.5.
Tabel 4.5 Rekapitulasi Skor Kesukaan Siswa terhadap Pembelajaran Berbasis
Masalah
|
Indikator
|
No Soal
|
Sifat Pernyatan
|
Frekuensi Jawaban dan Skor
|
Skor Netral
|
Skor
Respon
|
|||||
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
Item
|
Kls
|
Item
|
Kls
|
|||
|
Kesukaan
siswa
tehadap
pembelajaran
berbasis
masalah
|
5
|
Positif
|
16
|
17
|
1
|
0
|
2.25
|
2.46
|
3.44
|
3.69
|
|
|
|
4
|
3
|
2
|
0
|
|||||
|
6
|
Negatif
|
0
|
1
|
24
|
9
|
2.5
|
3.5
|
|||
|
|
|
0
|
2
|
3
|
5
|
|||||
|
9
|
Positif
|
11
|
23
|
0
|
0
|
2.5
|
3.56
|
|||
|
|
|
5
|
3
|
2
|
0
|
|||||
|
10
|
Negatif
|
0
|
0
|
30
|
4
|
2.25
|
4.11
|
|||
|
|
|
0
|
0
|
4
|
5
|
|||||
|
11
|
Negatif
|
0
|
1
|
24
|
9
|
2.5
|
3.5
|
|||
|
|
|
0
|
2
|
3
|
5
|
|||||
|
12
|
Negatif
|
0
|
4
|
22
|
8
|
2.75
|
4
|
|||
|
|
|
0
|
2
|
4
|
5
|
|||||
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa skor rata-rata tanggapan siswa pada setiap
butir pernyataan lebih besar daripada skor netral. Skor pada tiap butir
pernyataan tersebut adalah sebagai berikut : pernyataan nomor 5 yaitu 3,44 >
2,25, pernyataan nomor 6 yaitu 3,5 > 2,5, pernyataan nomor 9 yaitu 3,56 >
2,5, pernyataan nomor 10 yaitu 4,11 > 2,25, pernyataan nomor 11 yaitu 3,5
> 2,5 dan pernyataan nomor 12 yaitu 3,69 > 2,46. Data ini menunjukkan
kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah secara keseluruhan (34
orang) adalah positif. Hal ini berarti
bahwa siswa menyukai belajar dengan pembelajaran berbasis masalah.
d. Minat belajar siswa dalam mempelajari sistem respirasi
Tanggapan tentang minat belajar siswa dalam
mempelajari sistem respirasi digali dari pernyataan nomor 13 dan 14. Hasil analisis data disajikan pada
Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Minat belajar siswa dalam
mempelajari sistem respirasi
Keterangan :
SS : Sangat setuju, S : Setuju
1.
Saya senang
dengan adanya kesempatan yang diberikan guru untuk mengajukan
masalah dalampembelajaran.
2. Saya senang karena dalam pembelajaran ini saya dapat
menghasilkan produk atau karya
Gambar 4.4
menunjukkan 36% siswa sangat setuju dan 62% setuju dengan pernyataan “saya
senang dengan adanya kesempatan yang diberikan guru untuk mengajukan masalah
dalam pembelajaran”, dan tidak ada siswa
yang tidak setuju (0% tidak setuju dan sangat tidak setuju) dengan
pernyataan tersebut. Minat belajar siswa dalam mempelajari sistem respirasi
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah juga ditunjukkan dengan
pernyataan siswa 32% sangat setuju dan 68% setuju bahwa siswa senang dalam
belajar karena dapat menghasilkan produk atau karya.
Untuk
menunjukkan apakah minat belajar siswa dalam mempelajari sistem respirasi
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah positif atau negatif
adalah dengan membandingkan skor netral dan skor respon siswa. Rekapitulasi
skor minat siswa dalam pembelajaran berbasis masalah disajikan pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Rekapitulasi Skor Minat Belajar Siswa dalam Mempelajari
SistemRespirasi
|
Indikator
|
No Soal
|
Sifat Pernyatan
|
Frekuensi Jawaban dan Skor
|
Skor Netral
|
Skor Respon
|
|||||
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
Item
|
Kelas
|
Item
|
Kelas
|
|||
|
Minat belajar siswa
dalam mempelajari
sistem respirasi
|
13
|
Positif
|
13
|
21
|
0
|
0
|
2
|
2
|
3,76
|
3,7
|
|
|
|
5
|
3
|
0
|
0
|
|||||
|
14
|
Positif
|
11
|
23
|
0
|
0
|
2
|
3,64
|
|||
|
|
|
5
|
3
|
0
|
0
|
|||||
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa skor rata-rata tanggapan siswa pada setiap
butir pernyataan lebih besar daripada skor netral. Skor pada tiap butir
pernyataan tersebut adalah sebagai berikut : untuk pernyataan nomor 13 yaitu
3,76 > 2, pernyataan nomor 14 yaitu 3,7 > 2. Data ini menunjukkan
kesukaan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah secara keseluruhan (34
orang) adalah positif. Hal ini berarti
bahwa siswa berminat belajar dengan menggunakan model pembelajaran yang
digunakan pada materi sistem respirasi.
B. Pembahasan
1. Peningkatan
Penguasaan Konsep
Berdasarkan analisis
data hasil penelitian, pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan
penguasaan konsep siswa pada konsep sistem respirasi. Hal ini dapat terlihat
dari N-gain 0,55 dengan kategori sedang.
Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar
siswa 88% dengan kategori baik.
Peningkatan pengusaan konsep yang terjadi dalam
penelitian ini dimungkinkan kerena pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran
aktif yang berpusat pada siswa dengan menyajikan suatu permasalahan, kemudian
siswa diminta untuk mencari pemecahannya melalui serangkaian kegiatan dan
investigasi berdasarkan teori, konsep, dan prinsip yang dipelajarinya. Dalam
pembelajaran ini guru bertindak sebagai fasilitator, bukan sebagai pemberi
informasi, siswalah yang aktif membangun konsep-konsep yang baru melalui
masalah yang harus dipecahkannya. Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa
dituntut untuk mengidentifikasi masalah, mengeksplorasi permasalahan dengan
memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang dibutuhkan untuk menjawab masalah,
kemudian siswa menentukan apa yang akan dilakukan untuk memperoleh informasi
dari pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka munculkan. Untuk memperoleh informasi
yang dibutuhkan, siswa dapat melakukan penyelidikan ilmiah melalui percobaan
dilaboratorium, wawancara dengan para ahli, survey atau informasi dari
buku-buku maupun dari sumber lain yang menunjang. Berdasarkan hasil observasi selama pembelajaran berlangsung
dalam penelitian ini, siswa menggunakan berbagai sumber belajar seperti
buku-buku pendukung selain buku teks, siswa juga menggali informasi dari
internet, bahkan ada satu kelompok siswa yang melakukan wawancara dengan para
ahli yaitu dokter. Dengan menggunakan berbagai sumber belajar, hal ini tentu
akan memperkaya wawasan dan pengetahuan siswa. Hal ini dapat juga terlihat dari
hasil tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah. Siswa 97% setuju
( 47% sangat setuju dan 50% setuju), dengan pernyataan bahwa “ banyak ilmu yang
bisa saya dapatkan melalui pembelajaran berbasis masalah“. Dengan pembelajaran
aktif memberikan kesempatan kepada siswa
untuk dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan
pendapat Piaget (Ibrahim, 2004) yang mengemukakan bahwa pengetahuan tidak
diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan,
perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif
memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Selanjutnya Piaget (Ibrahim,
2004) mengemukakan bahwa pedagogi yang
baik harus melibatkan pemberian anak dengan situasi-situasi dimana anak itu
mandiri melakukan eksperimen, mengajukan pertanyaan dan menemukan sendiri
jawabannya, mencocokkan apa yang mereka temukan pada saat yang lain,
membandingkan temuannya dengan temuan orang lain. Hal ini juga sejalan dengan
pendapat Bruner yang menyatakan berusaha sendiri untuk mencari pemecahan
masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang
benar-benar bermakna (Dahar, 1989:103). McBrien & Brandt (Salmiyati,
2007:83) menyatakan hal yang sama bahwa siswa mendapatkan pembelajaran yang
terbaik melalui pencarian dan pembelajaran aktif.
Masalah-masalah sistem respirasi yang diberikan kepada
siswa dalam pembelajaran berbasis masalah dapat memotivasi siswa untuk belajar.
Hal ini dapat terlihat dari tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis
masalah dimana 97% siswa setuju (21%
sangat setuju dan 76% setuju) bahwa dengan adanya permasalahan siswa termotivasi
untuk aktif dalam pembelajaran. Motivasi siswa merupakan hal yang menentukan
keberhasilan dalam pembelajaran. Dengan adanya motivasi siswa akan tergerak
untuk belajar sehingga mempengaruhi hasil belajar. Hal ini sesuai dengan
pendapat Djamarah (2002:119) yang mengemukakan bahwa hasil belajar akan
meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah. Selanjutnya Djamarah
(2002:119) mengemukakan bahwa sesorang melakukan aktvitas belajar karena ada
yang mendorongnya, motivasilah sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas
belajar seseorang. Dengan adanya motivasi yang kuat dari siswa untuk belajar
maka siswa akan memperoleh ilmu yang sebanyak-banyaknya.
Salah satu karakteristik pembelajaran berbasis masalah
adalah belajar dalam kelompok kecil. Aktifitas dalam kelompok kecil ini
meliputi mengeksplorasi permasalahan, berbagi tugas dalam menggali informasi,
kemudian tiap anggota kelompok melaporkan kepada anggota kelompoknya yang lain
tentang informasi yang diperolehnya. Aktivitas ini memberikan kesempatan kepada
siswa untuk berdiskusi, dan saling bertukar informasi sehingga dapat
mengembangkan kemampuan dan pengetahuan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Vygotsky
(Ibrahim, 2004) yang mengemukakan bahwa interaksi sosial dengan teman lain
membantu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual
seseorang. Selanjutnya Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang
jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan
pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain (Jarvis, 2006:155).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
penguasaan konsep untuk setiap indikator pembelajaran dengan peningkatan
kategori tinggi pada indikator mengidentifikasi struktur, fungsi dan proses
sistem respirasi pada manusia dan indikator memberikan contoh teknologi yang
berhubungan dengan kelainan yang terjadi pada sistem respirasi. Peningkatan
yang tinggi pada kedua indikator ini dimungkinkan karena soal yang digunakan
untuk kedua indikator ini yaitu soal
nomor 3,9,16,24,27, 28,29,30 umumnya tingkat kesukaran soal berkategori mudah
(Tabel.3.2) dan jenjang kognitif pada soal-soal ini meliputi jenjang kognitif
C1 dan C2. Hal ini dapat mempengaruhi hasil postes siswa sehingga skor postes
kedua indikator tersebut tinggi, dan N-gainnya tinggi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Suryawati (2006:11) pada konsep sistem respirasi dan
transportasi hewan yang berkesimpulan bahwa daya serap dan ketuntasan belajar
siswa mengalami peningkatan melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah.
2. Tanggapan Siswa terhadap Pembelajaran
Berbasis Masalah
Berdasarkan hasil analisis data tentang tanggapan
siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah menunjukkan tanggapan siswa
positif terhadap pembelajaran berbasis masalah. Mengenai persepsi siwa tentang
pembelajaran berbasis masalah adalah sebagian besar siswa berpendapat bahwa
model pembelajaran yang diterapkan oleh guru merupakan model pembelajaran yang
baru. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil pengamatan aktivitas pembelajaran,
dimana siswa pada awalnya masih kelihatan bingung dengan tugas-tugas dalam
pembelajaran seperti memunculkan pertanyaan-pertanyaan untuk menyelesaikan
masalah.
Mengenai tanggapan siswa tentang motivasi dalam
pembelajaran berbasis masalah, siswa menanggapi positif dan merasa
termotivasi untuk aktif dalam
pembelajaran. Hal ini dimungkinkan karena siswa dihadapkan kepada masalah yang
menantang mereka untuk memecahkannya. Masalah yang diberikan adalah masalah
nyata yang ada dalam kehidupan siswa sehingga siswa termotivasi untuk
memecahkannya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Allen, Duch &
Groh (2001) bahwa masalah yang harus dipecahkan siswa adalah masalah yang
kompleks dan nyata dalam kehidupan, semuanya ini digunakan untuk memotivasi
siswa agar siswa mengidentifikasi dan mencari konsep dan prinsip dalam membahas
masalah yang telah diberikan. Motivasi siswa dalam pembelajaran berbasis
masalah ini dapat dilihat dari aktivitas siswa selama pembelajaran dan karya
yang dihasilkan siswa. Setiap kelompok berusaha untuk menanpilkan karya sebaik
mungkin.
Berdasarkan hasil penelitian, siswa juga memberikan
tanggapan positif terhadap pernyataan kesukaan dan minat dalam pembelajaran
berbasis masalah. Hal ini menunjukkan bahwa siswa berminat dan menyukai belajar
dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah. Hal ini dimungkinkan karena
pembelajaran berbasis masalah mengubah peran siswa dari pembelajar yang pasif
menjadi pembelajar yang aktif. Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa diberikan
kesempatan seluas-luasnya untuk menyelesaikan masalahnya. Guru bukan lagi
sebagai pemberi informasi tetapi siswalah yang aktif membangun pengetahuannya
melalui masalah yang dipecahkannya. Melalui pembelajaran berbasis masalah siswa
mengidentifikasi, mengeksplorasi permasalahannya, melakukan penyelidikan ilmiah
dan menampilkan hasil penemuannya kepada orang lain. Aktivitas-aktivitas yang
dilakukan siswa ini akan menumbuhkan minat dan kesukaan siswa terhadap
pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Piaget (Oakley, 2004:31) yang
mengemukakan bahwa anak-anak tidak hanya menyerap pengetahuan saja, tetapi
mereka belajar dengan aktif terlibat dalam proses. Selanjutnya Piaget (Oakley,
2004:31) mengemukakan bahwa pembelajaran yang baik memerlukan keikutsertaan,
keterlibatan aktif, yang akan membawa kepada pemahaman dan minat yang lebih
besar.
Tanggapan siswa yang positif terhadap pembelajaran
berbasis masalah dalam penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Liu (2005) tentang motivasi siswa melalui pembelajaran berbassis
masalah. Kesimpulan dari penelitian Liu (2005) adalah bahwa motivasi dan sikap
siswa terhadap sains meningkat dengan pembelajaran berbasis masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar